I
Etos adalah sebuah kata Yunani. Dalam ejahan Yunani, huruf e dalam kata etos dapat berupa epsilon (e pendek) dan dapat pula berupa eta (e panjang). Jika e-nya adalah epsilon maka etos berarti kebiasaan, adat, atau asal-mula. Tetapi, jika e-nya adalah eta maka etos berarti : 1. tempat tinggal, atau stasiun; 2. adat, kesusilaan, kebiasaan, watak, atau cara berbuat; dan 3. perhatian, atau keramahan hati.1
Akan tetapi, sebagai istilah filsafat, etos—sebagaimana yang dipakai oleh penulis dalam karangan ini—dieja dengan eta. Seperti yang dikatakan dalam karya Aristoteles, Heksei de ethos men,2 yang artinya: “Tetapi, aktor akan mengikuti karakter.” Jadi, etos adalah suatu karakter (dalam suatu pementasan drama) yang harus menjadi watak sang aktor. Misalnya, aktor A harus mementaskan Oidipous (umpamanya menurut karya Sophokles), ia harus mengikuti karakter (watak) Oidipous. Dalam hubungan ini, Aristoteles membedakan etos dengan pikiran atau inteligensi sebagai sumber aksi dramatis. Dari sini elemen dalam suatu komposisi dramatis yang melukiskan karakter sebagai berbeda dengan lukisan pikiran atau penderitaan.3
Untuk mendudukkan pengertian etos—dan selanjutnya etos sosial—akan dikemukakan dunia drama terlebih dulu. Menurut Northrop Frye, seorang kritikus drama dari Kanada, baik komedi lama (Aristophanes, Plautus) maupun komedi baru (Shakespeare, Moliere) mempunyai plot teleologis (arah cerita yang bertujuan), dimulai dengan seorang yang diayunkan oleh gelombang asmara, tetapi mengalami alienasi, lalu bergerak menuju ke arah penyempurnaan seksuil (perkawinan). Komedi baru mencapai suatu telos (tujuan) dalam pemandangan terakhir, yang secara dangkal adalah perkawinan, dan yang secara lebih dalam adalah suatu kelahiran kembali. Suatu masyarakat baru telah diciptakan di atas pentas dalam momen-momen terakhir dari suatu komedi baru yang khas, apabila keberatan-keberatan, penentangan-penentangan, kesalahpahaman-kesalahan dan bagan-bagan saingan telah dibereskan.4
Sebagaimana komedi itu dimulai dengan manusia yang mengalami alienasi demikian pula dalam masyarakat kita. Paul Ricoeur, misalnya, yakin, bahwa dalam pertemuannya yang pertama dengan manusia pada hakekatnya manusia itu adalah manusia “yang tersesat”, manusia yang secara aseli (originairement) baik, tetapi telah mengalami alienasi dari keinginan hidupnya yang murni, alienasi yang disebabkan oleh yang buruk.5
1 Lihat Dr. A.H.G.P. van den Es-Dr C.M. Francken, Grieksch Woordenboek, (Groningen : J.B. Wolters, 1877).
2 Aristoteles, Peri Poietikes, XV, 2.
3 Lihat Dagobert D. Runes (ed.), Kamus Filsafat, (Iowa : Ames, 1959).
4 Northrop Frye, “Old and New Comedy” dalam Shakespeare Survey, No. 22, (Cambridge University Press, 1969).
5 Paul Ricoeur, “Histoire et Verite,” Paris, 1966. Dikutip oleh Adri Geerts dalam Tijdschrift voor Philosophie, Leuven, Juni 1978, hal. 271.