Siapa yang tidak pernah berperanan di dalam hidup ini? Seorang bayi paling kecil sekali pun menyandang sebuah peranan yang mungkin tidak kecil: memberikan dua peranan baru kepada dua orang sebagai ayah dan ibu.
Dengan kemampuan yang biasa, dengan bakat biasa seorang mampu menjalankan beberapa peranan. Kadang-kadang malah bukanlah suatu yang mustahil bilamana seorang menjadi pegawai negeri, direktur sebuah bank, ketua partai politik, dosen di universitas, seorang lelaki, suami, ayah, penulis, pengemudi mobil pribadinya. Setiap posisi menuntut peranan yang berbeda-beda. Dan setiap peranan menuntut tingkahlaku yang berbeda-beda pula. Sebagai pengemudi mobil seorang akan beringasan membentak-bentak di jalanan, walaupun dia akan malu kalau sekiranya dia sadar bahwa sebagai seorang direktur dia seharusnya tidak bertengkar dengan seorang sopir helicak. Di pihak lain kita akan mengatakan bahwa seseorang adalah pribadi yang berhasil karena di dalam dirinya dia mampu memadu semua peranan dalam satu simpul yang harmonis.
Seorang yang gagal adalah dia yang tidak memadu peranan secara harmonis. Dia adalah direktur bank yang berhasil tetapi tidak berhasil sebagai suami, gagal sebagai bapak. Dia seorang yang halus akan tetapi dia kehilangan kelugasan seorang direktur bank. Maka di dalam dirinya terjadi intra-role conflict yang mengganggu dan tidak jarang memporakporandakan kehidupan.
Yang menjadi masalahnya sekarang adalah agar suatu masyarakat masih mampu bertahan hidup, berapa banyak konsensus dan bagi tingkahlaku mana saja? Agar mampu mencapai konsensus yang menghasilkan harmoni manakah zat perekat yang dibutuhkan? Dan bukan saja perekat yang dibutuhkan tetapi yang telah disetujui bersama. Persetujuan bukan saja tentang yang enak dan menyenangkan tetapi juga tentang konflik yaitu konflik yang ditolerir. Persetujuan masyarakat mengenai nilai-nilai dan pandangan-pandangan yang menghasilkan sikap-sikap tersebut adalah apa yang disebut etos sosial. Sadar atau tidak sadar yang disebut etos sosial senantiasa akan mewarnai setiap perbuatan kita. Etos kerja akan mewarnai tingkahlaku kita dalam bekerja. Kita akan mencintai jenis kerja yang satu dan membenci yang lain. Etos ini akan tampil lagi dalam saat kita menjalankan peranan kita masing-masing, sebagai pekerja, guru, politikus dan lain-lain.
Keberhasilan memadu konflik-konflik peranan di dalam diri dan di luar diri seseorang kita sebut seorang yang berpribadi. Keberhasilan memadu etos dalam peranan masing-masing menuju tujuan akan kita sebut juga sebagai bangsa yang berpribadi.