Prisma

Garis Kemiskinan dan Pengentasan Kemiskinan

Kerangka Teori Foster-Greer-Thorbecke

Dalam rangka pengentasan kemiskinan pengenalan teoritis tentang garis kemiskinan menjadi suatu titik awal yang penting. Siapakah penduduk miskin, di mana mereka berada, dan pada kelompok-kelompok mana saja kemiskinan tersebut terlihat paling besar dapat dikenali dengan cermat berdasarkan garis tersebut. Upaya pengentasan kemiskinan dilakukan oleh pemerintah untuk mengangkat mereka yang berada di bawah garis kemiskinan ke atas garis tersebut. Seberapa jauh keberhasilan program pengentasan kemiskinan kelak, hal ini sangat ditentukan oleh pilihan yang tepat terhadap kelompok mana yang harus didahulukan.

Inti pembangunan ekonomi adalah menaikkan tingkat kesejahteraan hidup suatu masyarakat, yang pada umumnya dikaitkan dengan tingkat pendapatan. Dalam kaitannya dengan pendapatan, maka kemiskinan menjadi masalah utama negara sedang berkembang.

Untuk menentukan siapa saja yang tergolong miskin di dalam suatu perekonomian, maka diperlukan suatu garis kemiskinan. Mereka yang berada di bawah garis kemiskinan tersebut dikategorikan sebagai golongan miskin, dan mereka yang berada di atas garis kemiskinan tersebut diklasifikasikan sebagai tidak miskin. Garis kemiskinan tersebut dapat mengambil berbagai bentuk, seperti jumlah pendapatan dalam unit uang, atau jumlah konsumsi dalam unit uang, atau pun jumlah konsumsi kalori per hari. Perdebatan mengenai cara mengukur dan tingginya garis kemiskinan yang wajar tersebut merupakan satu topik tersendiri yang telah banyak dipersoalkan. Artikel ini tidak akan masuk ke dalam perdebatan tersebut, melainkan ingin memperlihatkan apakah garis kemiskinan tersebut telah dapat mencerminkan nilai-nilai hidup yang layak, bukan hanya sekadar kebutuhan fisik minimum.

Dalam hubungannya dengan garis kemiskinan, kita mengenal kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. Dalam kemiskinan absolut, suatu perekonomian mempunyai suatu patokan garis kemiskinan yang tetap sepanjang waktu. Misalkan garis kemiskinan suatu perekonomian dinyatakan dalam konsumsi kalori yaitu 2.100 kalori per hari. Jika nilai ini dianggap konstan sepanjang waktu, maka kemiskinan yang terjadi di perekonomian tersebut adalah kemiskinan absolut. Sedangkan konsep kemiskinan relatif menyatakan, bahwa garis kemiskinan berubah-ubah menurut kondisi perekonomian yang bersangkutan. Penduduk miskin, misalnya, didefinisikan sebagai mereka yang memiliki 30 persen terendah dari distribusi pendapatan perekonomian tersebut. Dengan begitu, garis kemiskinannya akan berubah mengikuti distribusi pendapatan yang terjadi.

Analisis kemiskinan ini memiliki dimensi yang berbeda dengan distribusi pendapatan. Kedua konsep ini kadang-kadang digunakan secara bergantian untuk mencerminkan ketidakadilan di dalam masyarakat. Soal kemiskinan adalah masalah kurangnya pendapatan seseorang dari tingkat garis kemiskinan yang ada. Program pengentasan kemiskinan bertujuan untuk mengangkat pendapatan orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan ke atas garis kemiskinan tersebut. Karena itu, masalah kemiskinan tidak mempersoalkan pendapatan orang-orang yang ada di atas garis kemiskinan. Di pihak lain, masalah distribusi pendapatan adalah masalah perbedaan pendapatan antara individu yang paling kaya dengan pendapatan individu yang paling miskin. Semakin besar jurang pendapatan (income gap) tersebut, semakin besar pula variasi dalam distribusi pendapatan. Di dalam masalah distribusi pendapatan tidak dikenal adanya garis kemiskinan.

Analisis kemiskinan dapat dilakukan dengan unit analisis terkecil individu. Unit analisis yang lebih besar dapat pula dipakai, misalnya rumah tangga, kelompok masyarakat, dan lain sebagainya. Dalam artikel ini, unit analisis yang akan dipakai adalah individu.

Setiap individu memiliki tingkat pendapatan tertentu. Cara menghitung pendapatan tersebut merupakan suatu persoalan kompleks tersendiri. Tingkat pendapatan ini kadang-kadang disebut dengan pre-welfare income. Yang perlu diyakini ialah, bahwa ada suatu tingkat pendapatan minimum yang harus dimiliki oleh seorang individu dalam suatu periode tertentu agar ia dapat hidup dengan layak. Tingkat pendapatan minimum tersebut dikenal dengan nama garis kemiskinan (poverty line). Dengan begitu, individu dengan pendapatan di bawah garis kemiskinan tersebut tergolong ke dalam individu miskin. Sebaliknya, individu dengan pendapatan di atas garis kemiskinan tersebut tergolong ke dalam individu tidak miskin.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan