Jakarta menjelang fajar. Di sekitar sebuah diskotik di Ibukota, abang becak berkumpul, mereka bernyanyi dan berjoget … Iramanya mengalun menyenangkan. Mereka seolah-olah melebur jadi satu dalam musik dan tarian. Tetapi gerakan-gerakan lembut gemulai itu sebenarnya muncul dari kaki-kaki yang kekar berbobot; dan lengan-lengan yang berotot bergoyang menggapai udara menurut irama. Baju kaus dan celana pendek yang dikenakannya semakin menonjolkan otot dan kekekarannya. Kaki-kaki kekar berurat dan lengan bergumpalan otot adalah gambaran dunia keringat dan kerja keras. Tetapi dunia yang keras kini luluh dalam gemulai gerak tarian, karena sang pekerja lagi bersantai.
Beberapa ratus meter dari tempat ini terdapat suatu diskotik, cahaya lampunya menyilaukan dan mencuarkan kesegaran. Di sana kencan dan kebahagiaan dibayar dengan sejumlah uang. Nama-nama yang melambangkan kenikmatan dipasang untuk berbagai diskotik seperti itu: Taman Firdaus, Surga Dunia, Bulan Biru dan seterusnya. Di dalam, pria dan wanita sedang sibuk mempertontonkan tarian-tarian yang lagi mutakhir di New York, London dan Paris. Mereka semuanya berbusana molek, indah dan tampan; sekurang-kurangnya inilah kesan yang hendak mereka ciptakan. Warna-warni lampu dan lagu-lagu yang berdenyut memancing segala jenis gerakan kaki dan tangan untuk menari. Tak tercium bau keringat dan kerja keras; seluruh ruangan semerbak dengan bau minyak wangi; after shave lotion atau wangian lain yang menembus asap rokok impor dari Amerika dan Inggeris. Maka sempurnalah gambaran dunia santai di Jakarta.
Dua golongan manusia sama bersantai tetapi berbeda dalam gaya. Jarak yang memisahkan abang-abang becak dengan makhluk-makhluk kosmopolitan itu hanyalah beberapa ratus meter. Tetapi jurang sosial, ekonomis dan sejarah antara keduanya membuka lebar tak terjangkau. Di satu pihak tampak tenaga kerja kasar dengan kebiasaan-kebiasaan yang diwariskan turun menurun dan di lain pihak, suatu masyarakat yang sedang mempertontonkan gaya hidup Barat. Tetapi kalau dilihat lebih cermat maka semuanya adalah kesan-kesan luar dalam gaya hidup bersantai dan berpakaian. Di dunia Barat semuanya adalah produk sampingan dari industrialisasi dan efisiensi, kemajuan organisasi dan pemikiran sehat. Di sinilah dunia disco justru bertentangan dengan gaya hidup barat, di mana bersantai adalah produk dari kerja keras.
