Prisma

Gender dan Kerja Rumahan

Kenyataannya, kerja rumahan mencakup berbagai jenis pekerjaan yang umumnya dilakukan perempuan, baik domestik maupun publik. Walaupun demikian, hubungan gender dalam industri rumah tangga tetap menempatkan pekerja perempuan dalam status yang rendah. Karena diskriminasi ini, kerja rumahan tak diperhitungkan dalam statistik dan seringkali tanpa upah. Andaikan diupah kerja mereka pun tetap didevaluasi.

DALAM limabelas tahun terakhir banyak perhatian ditujukan terhadap kerja perempuan di seluruh dunia. Hal ini semakin terlihat dengan dicetuskannya Dasawarsa Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa bagi Perempuan (1975-1985), di mana banyak data tentang kerja perempuan dikumpulkan. Studi Rebecca Joseph (1987) memperlihatkan bahwa perempuan bekerja pada semua sektor ekonomi (industri, pertanian, perdagangan, jasa, dan kadangkala pertambangan).1 Walaupun demikian, jumlah kerja perempuan yang bekerja ini sering dikritik sebagai tidak sesuai dengan kenyataan karena hanya pekerjaan di luar rumah yang dimasukkan ke dalam statistik dan mengabaikan kenyataan bahwa perempuan banyak yang bekerja di rumah dalam lingkungan domestik. Kerja domestik ini tidak dinilai karena tidak terlihat oleh petugas sensus atau diremehkan sebagai pekerja biasa, tidak produktif, ataupun tidak menghasilkan sesuatu yang bernilai.2 Sejalan dengan diabaikannya kerja di rumah (housework), artinya kerja pemeliharaan, masak-memasak serta kerja yang berhubungan dengan perawatan orang lain (care work) seperti, anak atau anggota rumah tangga yang lainnya, suatu aspek lain kerja rumahan yang sering dilupakan juga ialah homework atau home-based work.3 Namun baru-baru ini — melalui penelitian tentang sektor informal dan promosi berbagai lembaga pembangunan dalam kegiatan peningkatan pendapatan (income-generating activities) bagi perempuan, serta melalui laporan penelitian para sarjana feminis — perhatian terus dicurahkan kepada kerja non-domestik (upahan) di dalam rumah.

Bukan hanya di negeri berkembang tetapi juga di Barat, kerja rumahan mendapat perhatian dari para pejuang feminis dan sudah dilaporkan serta disebarluaskan.4 Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa mayoritas pekerja rumahan adalah perempuan. Karena itu penting menambahkan ‘perspektif gender’ kepada kerja rumahan serta mempertanyakan: “mengapa perempuan yang bekerja dan dalam hubungan sosial apa mereka bekerja?”

Untuk mengenal berbagai isu penting yang relevan supaya lebih luas memahami kerja perempuan, tulisan ini coba melihat sifat dan organisasi kerja rumahan dengan memilih dua contoh, satu dari industri batik di Jawa dan satu dari industri tekstil (pembuatan kain) di India. Kerja rumahan dipilih sebagai contoh, karena sangat cocok untuk menunjukkan penggenderan (genderization) dalam kerja perempuan, di mana struktur sosial, gambaran ideologi dan bentuk akumulasi bergabung dalam suatu lingkungan yang dianggap feminin.

Terminologi dan Gambaran Umum Statistik

Sebelum mulai membahas dua studi kasus tersebut dan supaya definisi menjadi jelas, perlu diterangkan apa yang dimaksudkan dengan home-based work. Dalam kepustakaan ditemukan berbagai istilah dengan konotasi yang hampir sama: industri rumahan (home industry), industri kerajinan setempat (cottage industry),5 industri rumah tangga (household industry), industri kecil (small scale industry),6 sweatshops, outwork, putting-out work.77 Istilah-istilah tersebut, untuk sebagian, mempunyai fokus yang berbeda, baik menurut luasnya, jumlah pekerjaannya, lokasi unit produksinya maupun menurut proses produksinya. Karena tiadanya ketentuan mengenai definisi kerja rumahan maka dokumentasi statistik tentangnya cenderung menganggap pekerja rumahan sebagai orang yang ‘bekerja bagi diri sendiri’ (self-employed) sehingga mengaburkan status ketergantungan mereka.


1 Rebecca Joseph. “Worker, Middle-women, Enterpreneur: Women in the Indonesian Batik Industry”, dalam Women’s Roles and Gender Differences in Development, Cases for Planners in Asia, Bangkok: The Population Council, 1987.

2 Tentang pembahasan kerja domestik lihat E. Kaluzynska, “Wiping the Floor with Theory”, dalam Feminist Review, No. 6, 1980, hal. 27-54. Dalam penelitian terhadap pembuat renda di Nasarpur, India, Mies memperlihatkan walaupun banyak perempuan sepanjang hari membuat renda di hadapan mereka, para suami mengklaim bahwa isteri mereka tidak bekerja; lihat Maria Mies, “the Dynamics of the Sexual Division of Labour and Integration of Rural Women into the World Market” dalam Lourdes Beneria (penyunting), Women and Development: The Sexual Division of Labour in Rural Societies, New York, Praeger Publishers, 1982, hal. 1-28.

3 Home-based work secara harfiah berarti “kerja yang berada di rumah”. Walaupun kurang memuaskan, home-based work dan homeworker diterjemahkan menjadi “kerja rumahan” dan “pekerja rumahan”. Paulus Wirutomo (“Wanita Pekerja dalam Sistem ‘Kerja di Rumah’ “, makalah dalam Seminar “Fakta dan Citra Wanita Indonesia”, Jakarta, 15-18 September 1989) baru-baru ini menggunakan istilah ‘kerja di rumah’, tetapi kami tidak mengikuti pemakaian istilah tersebut.

4 Diana Elson dan Ruth Pearson, “Third World Manufacturing” dalam Feminist Review, London: Virago Press, 1978, hal. 67-92; Sheila Allen dan Carol Wolkowitz, “Homeworking and the Control of Women’s Work” dalam Feminist Review, London: Virago Press, 1986, hal. 238-264; Sheila Allen dan Carol Wolkowitz, Home Working: Myths and Realities, London, Macmillan Education 1987; Maria Mies, “The Dynamics of the Sexual Division of Labour and Integration of Rural Women into the World Market”, dalam Lourdes Beneria (penyunting) Woman and Development: the Sexual Division of Labour in Rural Societies, New York: Praeger Publishers, 1982, hal. 1-28; Maria Mies, Patriarchy and Accumulation on a World Scale: Women in the International Division of Labour, New Jersey: Zed Books, 1986; A. Manefee Singh dan Anita Kelles-Viitanen, Invisible Hands: Women in Home-based Production, New Delhi: Sage Publications, 1987; Lourdes Beneria dan Martha Roldan, The Crossroads of Class and Gender: Industrial Homework, Subcontracting, and Household Dynamics in Mexico City, Chicago: The University of Chicago Press, 1987.

5 Yang dimaksud dengan industri rumahan (home industry) atau industri kerajinan setempat (cottage industry) adalah industri yang berlokasi di tempat tinggal para pekerja dan biasanya merupakan perusahaan pribadi, di mana anggota rumah tangga bekerja sendiri untuk keluarganya. Tapi tidak mustahil satu atau dua orang anggota rumah tangga membawahi beberapa pekerja lain dari luar rumah.

6 Kendati isilah industri rumah tangga (household industry) sama artinya seperti industri rumahan (home industry), tetapi keduanya tidak membedakan hubungan dan posisi antara majikan (employer) dan tenaga kerjanya; bekerja untuk diri sendiri, atau bekerja dengan beberapa orang di dalam rumah tangganya, ataupun dengan mempekerjakan seorang anggota atau lebih yang berasal dari “luar”.

7 Sementara itu istilah sweat shop seperti juga industri kecil, tapi lebih menekankan pada beratnya pekerjaan dan status para pekerja yang tidak terjamin. Outwork berarti kerja di luar pabrik yakni di dalam lingkungan domestik: rumah atau tempat tinggal pekerja, di mana lokasi produksi/tempat pembuatan ditekankan. Akhirnya, putting-out work ialah suatu bentuk produksi, di mana sebagian (kadang-kadang semua) proses produksi dipindahkan dari pusat pengolahan dan/atau perdagangan ke pemukiman pekerja. Dengan “pemindahan” (putting-out) ini akan tergambar pengalihan proses produksi (pengerjaan) yang menjadi inti dari kerja rumahan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan