Banyak yang mengatakan bahwa proses regenerasi akan berlangsung di tahun 1980-an. Daniel Dhakidae dalam tulisannya mengungkapkan bahwa peremajaan ternyata tidak berlangsung dengan sendirinya. Misalnya DPR sudah menjadi semakin tua. Anggota DPR hasil pemilihan umum 1977 jauh lebih tua daripada anggota DPR hasil pemilihan umum 1971. Di dalam badan eksekutif kecenderungan untuk mempertahankan umur tua cukup jelas. Dipertanyakan, apakah konsep generasi tidak lebih dari sekedar isyu politik belaka?
Pendahuluan
Kenyataan tentang adanya kelahiran, kehidupan, dan kematian dari puluhan bahkan ratusan juta orang dalam suatu negara memungkinkan kita berkata secara a priori bahwa pada suatu saat tertentu ada sekelompok orang yang lahir, kemudian hidup pada saat yang sama lantas juga mati pada saat yang sama. Sebaliknya kenyataan di atas juga memperbolehkan kita berkesimpulan bahwa ada orang atau sekelompok orang yang tidak lahir pada saat yang sama, namun mereka hidup pada saat yang sama. Suatu masyarakat dengan demikian bisa dipilah-pilah ke dalam struktur umur atas dasar persamaan dan perbedaannya. Bilamana kita andaikan bahwa di Indonesia sekarang di tahun 1980 ada seorang atau sekelompok orang yang bisa dianggap tertua dan berumur 100 tahun, maka setiap penduduk Indonesia sebanyak 135 juta bisa dihimpun dan dikelompokkan menurut kelahirannya (dari yang termuda sampai yang tertua), sehingga kita mendapatkan 100 jenjang dalam struktur umur, yaitu menurut tahun kelahirannya masing-masing. Dan bisa lagi dikelompokkan dalam interval 10 tahun atau 15 tahun. Namun pembagian semacam ini ternyata tidak mengatakan apa-apa. Dia penting bagi deskripsi demografis tetapi tidak berarti bagi analisa generasi.1
Karena itu haruslah dicarikan suatu penafsiran konsep generasi dalam perumusan yang ketat secara sosial-politis dan historis, sehingga dia menjadi berarti dan relevan, yaitu berkemampuan menjelaskan gejala-gejala sosial dalam suatu kurun waktu.
Generasi: apakah itu
Dari zaman ke zaman umur muda dan tua senantiasa merupakan misteri. Yang muda disamakan dengan kekuatan dan dinamika, yang tua disamakan dengan kearifan. Orang muda yang kuat dan dinamis, orangtua yang bijak-bestari lalu bertumbuh menjadi mitos sepanjang zaman. Semuanya menarik perhatian para pemikir dan ahli filsafat untuk menguak tabir penutup masalah-masalah yang berputar di sekitar satu kata: generasi. Namun studi-studi yang bersifat filosofis tentang generasi kurang memperhatikan pertanyaan-pertanyaan yang meliputi generasi seperti: apa itu generasi, mengapa ada generasi, berapa lama satu generasi bertahan, bagaimana ruanglingkupnya, dan bagaimana menentukannya. Baru ketika muncul José Ortega Y Gasset (1883-1955) ada usaha yang sistematis yang mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Ortega sudah menyatakan ketidakpuasannya dengan penjelasan tentang generasi yang hanya berdasarkan pertimbangan biologis dan genealogis. Menurut pendapatnya hidup bukan saja terdiri dari struktur psycho-phisical, akan tetapi terlebih dalam apa yang diperbuat orang dengan itu. Kehidupan manusia adalah sebuah drama dengan pelaku-pelaku, plot, dan skenario yaitu dunia.
And this world is primarily a mass of social in- terpretation of reality:—“beliefs, ideas, custom, estimations, etc. These have a life independent of our individual wills; like laws, they stand in force, and we can not avoid meeting them and having to deal with them” 2
* Penulis mengucapkan terima kasih kepada saudara-saudara Endang Basri Ananda dan Tunggal Partmono SH, yang telah membantu mengumpulkan data bagi keperluan tulisan ini.
1 Bandingkan dengan apa yang dikatakan Marvin Rintala: A political generation is not to be equated with a biological generation. Political generation do not suddenly “change” every 30 or 35 years.” Baca Marvin Rintala, Political Generations, dalam, David L. Sills (ed.) International Encyclopedia of the Social Sciences, hal 93
2 Julian Marias, “Generations, The Concept” dalam David L. Sills (ed.) International Encyclopedia of the Social Sciences, hal. 89.