Kendatipun rakyat sering dipandang sebagai non-factor dalam perekaman sejarah, penelaahan yang dilakukan terhadap dua kasus pemberontakan di Filipina dan Indonesia di bawah ini menunjukkan bahwa peran masyarakat akar rumput dalam kedua gerakan tersebut adalah sama pentingnya dengan lapisan elite yang memimpin. Namun terbukti bahwa gerakan yang memiliki hirarki kekuasaan yang relatif terstruktur lebih resistens dan mampu bertahan daripada yang berkualitas sporadis.
SEJARAH sesungguhnya bukan hanya sejarah elit penguasa, melainkan juga perekaman atas dinamika dalam dari kaum jelata. Dengan demikian, dalam rekaman sejarah, pertanian dan petani seharusnya memiliki peran penting.1 Tetapi, dalam kasus sejarah Jawa, perekaman sejarah yang dilakukan oleh para pujangga selalu memuat peristiwa-peristiwa politik di kraton dan memandang rakyat hanya sebagai non-factor di dalam sejarah.2 Agaknya, kurangnya minat pada politik pedesaan berpangkal dari asumsi bahwa petani selalu bersikap konservatif dan menganut sikap yang negatif terhadap modernisasi dan perubahan.3 Padahal di dalam kenyataan, petani dan kaum jelata lainnya memiliki tempat dan peran sejarah, khususnya sejarah perubahan sosial, yang sama penting sebagaimana peran yang disandang oleh kaum penguasa dan elit masyarakat lainnya.
1 Sartono Kartodirdjo, “Sejarah Pedesaan dan Pertanian”, Prisma, No. Khusus, No. 7, Agustus 1976; hal. 66 dan 73.
2 Ibid., hal. 67.
3 Lihat Onghokham, “Peranan Rakyat dalam Politik”, Prisma, No. 8, Agustus 1979; hal. 35.