Prisma

Gizi dan Kemampuan Fisik Sumberdaya Manusia

Kasus di Sektor Pertanian

Buruh-tani selalu menjadi kajian menarik ditinjau dari segala aspeknya. M. Khumaidi berupaya untuk membuktikan adanya adaptasi biologis sehubungan dengan kondisi gizi dan kemampuan fisiknya. Hasil penelitiannya di wilayah Supra Insus Kabupaten Pekalongan menunjukkan buruh-tani yang sehat secara alamiah memiliki keseimbangan pola konsumsi pangan yang memenuhi kecukupan gizi dan energinya. Seiring dengan proses penuaan, status gizinya mengalami marginalisasi sehingga tidak mungkin meningkatkan produktivitas.

Salah satu kunci keberhasilan berbagai program di bidang pertanian adalah peranan sumberdaya manusia pelaksana kegiatan budidaya komoditas pertanian yang dikenal dengan sebutan buruh-tani. Dalam usahatani, khususnya usahatani padi sawah, peranan buruh-tani sangat besar dan merupakan faktor penentu betapa pun majunya penerapan teknologi modern. Menurut Vink (1941) jumlah jam kerja buruh-tani adalah 960 jam-tenaga per hektar sawah sejak masa persiapan tanam sampai panen; tetapi pada masa dengan teknik budidaya tanaman yang lebih maju curahan tenaga dan waktu bahkan lebih tinggi yaitu 1106 jam-tenaga per hektar sawah dengan rata-rata keluaran (output) 2,2 kg beras per jam tenaga.1

Kemampuan buruh-tani dalam melakukan tugas kegiatan fisik ditentukan oleh banyak faktor, antara lain: status kesehatan, kecukupan pangan sumber energi, pengalaman, keterampilan, bentuk dan ukuran alat yang sesuai (ergonomi), motivasi kejiwaan serta keadaan lingkungan yang kondusif. Dalam situasi tidak normal ada dua faktor lagi yang besar pengaruhnya yaitu “iming-iming” insentif dan paksaan (enforcement) dari luar. Jika faktor-faktor tersebut telah terpenuhi buruh-tani dapat melakukan tugas kegiatan fisiknya secara optimal, bahkan dapat menjadi “ujung tombak” dalam usahatani padi sawah sehingga mampu menunjang peningkatan dan pelestarian produksi.

Hampir semua kajian pakar-pakar berbagai bidang ilmu tentang buruh-tani selalu menemukan bahwa mereka adalah lapisan masyarakat paling miskin,2 taraf kesehatannya marginal, konsumsi energinya rata-rata rendah yaitu 60-90 persen dari angka kecukupan anjuran (recommended dietary allowance) dan pendidikannya rendah. Pada umumnya hasil penelitian memberikan kesimpulan yang prospektif pesimistik berkaitan dengan masalah pertambahan penduduk, lahan pertanian yang semakin sempit karena proses fragmentasi, makin meningkatnya jumlah pengangguran, kesuburan tanah yang makin merosot, pesatnya laju konversi dari lahan pertanian ke penggunaan lain serta minat generasi muda yang rendah terhadap kegiatan di bidang pertanian.

Hal menarik dari aspek gizi dan kesehatan, walaupun tingkat konsumsi energi buruh-tani ditemukan selalu berada di bawah norma kecukupannya, adalah bahwa mereka tetap melakukan tugasnya yang memerlukan energi tinggi. Para pakar dan peneliti berusaha mencari jawaban tentang fenomena paradoksial tersebut melalui teori adaptasi.

  1. Adaptasi biologis. Konsumsi energi rendah (tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan curahnya) tetapi mampu melakukan kegiatan jasmaninya dengan tegar dari musim ke musim akan berakibat risiko terkurasnya cadangan energi tubuh dengan gejala makin kurusnya perawakan (stature) tubuh. Ditaksir bahwa per 1000 kkal defisit energi pangan (DEP) secara gradatif dan surplus energi pangan (SEP) secara akumulatif adalah setara dengan 0,14 kg turun atau naiknya berat badan.3
  2. Adaptasi metabolik. Daya kerja dapat mencapai optimal meskipun konsumsi energinya rendah karena ambilan (intake) energi yang marginal dari konsumsi pangan dapat dimanfaatkan oleh tubuh secara efisien. Contohnya, buruh-tani mencangkul yang konsumsi energinya rata-rata 2700 kkal/hari curahan energinya pada saat bekerja mencapai lebih dari 3000 kkal/hari,4 dalam gerakan mengayunkan 1,5 kg cangkul rata-rata 2500 kali sehari5 dengan hasil cangkulan seluas 20 m berkedalaman 30 cm/jam kerja.6
  3. Adaptasi kultural. Dengan konsumsi energi rata-rata di bawah angka kecukupan anjuran tetapi tubuh tetap dalam kondisi sehat, sesungguhnya secara alamiah daya kerja akan menurun dan berakibat produktivitas kerja rendah. Pada tingkat marginal, adaptasi kultural merupakan proses hubungan melingkar antara garis kemiskinan (poverty-line) dengan garis kelaparan (hunger-line) dalam siklus lingkaran setan (vicious cycle) kemiskinan.7

1 Lihat G.J. Vink, de Gronslangen van het Indonesische Landbouwbedrijf, H. Veenman & Zonen Wageningen Holland, 1941; juga Sajogyo (ed.), Ekologi Pedesaan: Sebuah Bunga Rampai (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan IPB, Rajawali, 1982).

2 Sjarifuddin Baharsyah, “Kebijaksanaan Pembangunan Pertanian dalam Kerangka Penanggulangan Kemiskinan,” Semiloka Nasional Penanggulangan Kemiskinan, Fakultas Pertanian IPB, Bogor, 1991.

3 J.V.G.A. Dumin, “Is Satisfactory Energy Balance Possible on Low Energy Intake?” dalam Bulletin of Nutrition Foundation of India 11 (20), 1990, hal. 1-4.

4 Wade C. Edmundson, “Land, Nutrition and Work in Three Javanese Villages,” PhD Thesis, Departement of Geography, University of Hawaii, USA, 1972.

5 H.R. Sugeng, Bercocok Tanam Padi (Semarang: C.V. Aneka Ilmu, 1984).

6 Suma’mur P.K., Ergonomi Untuk Produktivitas Kerja (Jakarta: C.V. Haji Masagung, 1989).

7 C. Gopalan, “Low Energy Intakes,” dalam Bulletin of Nutrition Foundation of India, 11 (20), 1990, hal. 5-6.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan