Mengenang Harry Wibowo, saya teringat persahabatan kami di era aktivis kelompok studi mahasiswa tahun 1980-an.
Di sela-sela percakapan pribadi, soal kekasih dan cinta, uang kuliah, politik Soeharto, acap terselip tiga nama pemikir: Erich Fromm, Paulo Freire, dan Herbert Marcuse.
Pagi itu, 19 Mei 2025, Jakarta seperti tak tahu bintang kecil di langit intelektual baru saja padam. Langitnya tenang. Tidak ada hujan, tidak juga angin.
Tapi dada saya seperti dijatuhi benda berat tak terlihat. Di dunia yang lebih banyak bicara tentang followers dan viralitas, kepergian seorang pemikir sunyi seperti Harwieb nyaris tak menimbulkan riak.
Namun, justru di sanalah nilainya: dia pergi seperti dia hidup—diam-diam, namun mengguncangkan dari dalam, dalam sunyi.
Saya teringat wajahnya dalam potongan koran Kompas tahun 1986. Di halaman satu, terpampang foto kami bertiga: saya, mewakili Kelompok Studi di Jakarta; Taufik Rahzen dari Yogyakarta; dan Harry Wibowo dari Bandung.
Usia kami masih muda, antara 23 dan 26 tahun. Namun, semangat kami telah menua sebelum waktunya, mengunyah wacana, memuntahkan perlawanan melalui ide.
Selama tiga hari berturut-turut, Kompas menulis tentang gelombang baru gerakan mahasiswa: dari demonstrasi ke studi, dari kerumunan jalanan ke percakapan malam yang membentuk naskah pemikiran.
Berita itu muncul sekian waktu setelah kolom saya di harian Kompas, berjudul “Negara, Masyarakat, dan Mahasiswa” (11 Juni 1986).
Kolom itu menyatakan bahwa telah lahir generasi baru. Tak seperti aktivis 1966 atau 1970-an, kami lebih menyerupai Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sutomo. Mereka membangun bangsa dari meja diskusi, dari naskah dan gagasan.
***
Harry Wibowo, atau Harwieb begitu kami menyebutnya, adalah wajah khas dari gerakan itu. Di setiap pertemuan, dia tak pernah datang sendiri. Dia membawa bersamanya pemikiran Karl Marx, Max Horkheimer, Erich Fromm, Ivan Illich, Paulo Freire.
Mereka semua hidup dalam cara Harwieb berbicara.
Bandung menjadi ladang tempat dia menanam ide-ide progresif dengan cara yang elegan. Dia bukan tukang teriak, tapi pemantik bara. Bicaranya tenang, penuh kutipan, namun suaranya membuat ruang menjadi sunyi.
Karena kami tahu, kami sedang menyimak seseorang yang bukan hanya membaca buku, tapi dihidupi oleh buku.
Kala itu orang luar menyebut generasi kami “perpustakaan berjalan.” Harwieb adalah jilid lengkapnya. Rak pikirannya tersusun seperti katalog pemikiran kiri: dari Frankfurt School hingga teori ketergantungan.
Dia pembaca setia Pedagogy of the Oppressed. Dia meyakini pendidikan bukan alat domestikasi, tapi alat pembebasan. Mahasiswa tak cukup sekadar turun ke jalan. Dia harus turun ke akar gagasan. Jika tidak, dia hanya jadi megafon, bukan mercusuar.
Saya ingat malam tahun 1987. Kami berdiskusi di warung kecil dekat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Meja kayu bergetar karena lalu lintas, lampu menggantung bergoyang-goyang.
Harwieb berkata, “Perubahan tak harus berdarah. Kadang cukup selembar tulisan yang mengendap di kepala, lalu meledak. Tapi gagasannya harus mengubah relasi kekuasaan, yang kini dikendalikan oligarki.”

Harry Wibowo bin Hargono Singgih, 27 Maret 1961 — 19 Mei 2025

Dewan Redaksi dan Redaktur Jurnal Prisma. Januari 2019 Kiri-Kanan: Harry Wibowo, Arya Wisesa, Sumit Mandal, Daniel Dhakidae, Vedi R Hadiz, Ismid Hadad, Azyumardi Asra, Taufik Abdullah, Fachru Nofrian B, Nezar Patria.