Prisma

Hubungan Sipil-Militer, Sistem Politik dan Sistem Hankam di Dunia Ketiga: Jalan Keluar ataukah Masalah Pokok?

Jepang seringkali diambil sebagai contoh bilamana bangsa-bangsa di Asia mau memoderenisasikan negerinya masing-masing. Namun menurut Dorodjatun Kuntjorojakti, kesimpulan semacam ini bisa saja menyesatkan, karena orang terlalu mudah menilai keberhasilan “Revolusi Meiji” sebagai keberhasilan golongan militer dalam upaya industrialisasi dan moderenisasi Jepang. Di Jepang pada waktu itu tidak ada batas yang tegas antara militer dan Sipil. Di pihak lain kemampuan zaman moderen untuk membinasakan dunia secara total memaksa dunia ketiga bukan saja untuk mencari kesejahteraan tetapi juga ketahanan dan ini berarti memberikan peranan kepada militer.

Salahsatu pengalaman sejarah yang sangat berbekas pada kenangan berbagai bangsa di Dunia Ketiga, adalah pengalaman berhadapan di medan pertempuran dengan kekuatan militer negara-negara Barat, pertama, ketika negara-negara yang terakhir ini melebarkan sayap kekuasaannya di bawah naungan politik imperialisme pada abad ke-18 dan 19; dan, terakhir, ketika bangsa-bangsa di Dunia Ketiga mulai bangkit nasionalismenya, dan berusaha melepaskan diri dari belenggu penjajahan, pada periode sesudah berakhirnya Perang Dunia II. Berulang kali dibuktikan, dan setiap kali dengan pengorbanan yang besar, betapa kekuatan pihak tradisional selalu dikalahkan oleh mereka yang moderen. Konflik-konflik tersebut memamerkan dengan jelas dan keras bahwa permasalahan kekalahan itu bukan sekedar terletak pada perbedaan teknologi senjata, tapi juga pada sistem organisasi yang digunakan oleh masing-masing pihak, perbedaan sikap dan cara memandang dalam bidang strategi dan taktik, baik dalam tahapan peperangan maupun diplomasi, dan-yang tak pernah gagal meninggalkan kesan yang mengagumkan-oleh keampuhan sistem logistik pihak Barat. Cukup lama pertarungan yang sepihak itu berlangsung, sebelum bangsa-bangsa Dunia Ketiga mulai bangkit kesadarannya bahwa keampuhan dan keangkuhan pihak penyerang itu terletak pada industri-industri, yang secara tekun dan melalui masa pembinaan yang lama didirikan dan dikembangkan menjadi sebuah sistem terpadu berskala besar, yang akhirnya menumbuhkan sebuah pola kehidupan-bahkan, kebudayaan-yang baru. Dari konfrontasi yang berat sebelah dan kesadaran inilah kita terpaksa mengakui, secara terus terang atau diam-diam, bahwa: (1) dalam banyak hal, yang moderen lebih kuat dan terasa kehadirannya dibandingkan dengan yang tradisional; dan (2) jalan keluar bagi Dunia Ketiga adalah lewat industrialisasi, dan lebih hakiki dari itu lewat moderenisasi.

Revolusi Meiji: jawaban Asia yang pertama

Satu demi satu, kerajaan-kerajaan di Asia, diintimidasi dan ditundukkan pendatang dari Barat. Pada awal abad ke-19, berbarengan dengan munculnya Amerika Serikat sebagai kekuatan Barat di kawasan Pasifik, dan masuknya Rusia moderen di daratan Asia Utara dalam bentuk serta cara yang lebih efektif dari periode sebelumnya, bergeraklah fokus ekspansi Barat ke kawasan Cina Utara-Mancuria-Korea-Jepang. Pada waktu itu pemerintahan Manchu di Cina praktis telah porak poranda, dipaksa memberikan macam-macam konsesi kepada berbagai negara Barat, dan membuka lebar daratan Cina untuk perdagangan industri-industri Barat. Kekalutan yang terjadi di Cina merembes menjadi proses demoralisasi, yang menjadikan kerajaan tertua dan terbesar di Asia ini karikatur dari segala apa yang salah dari sebuah pola kehidupan tradisional, dalam menghadapi tantangan negara-negara moderen Barat. Wibawa pemerintah pusat Cina dirapuhkan lewat praktek “dagang gelap” (alias korupsi) di antara birokrat kerajaan Cina dengan perusahaan/pedagang Barat, dengan akibat kerajaan dikeringkan dari sumber ekonomi, sedangkan rakyat Cina ditelantarkan menjadi sekedar obyek penghisapan para pendatang. Kelihatannya, cuma tinggal skala Cina yang begitu besar saja yang menghalangi niat pihak Barat untuk mendudukinya sebagai koloni-koloni.1


1 Mungkin faktor inilah yang menyebabkan Barat hanya berniat memaksakan perjanjian perdagangan (“perjanjian”) yang menguntungkan pihaknya, dengan memperoleh “access” seluas mungkin untuk masuk ke Cina, dan puas dengan memperoleh basis-basis seperti Hongkong, Shanghai, dan sebagainya itu. Lihat: John K. Fairbank, Edwin O. Reischauer, dan Albert M. Craig, Asia Timur: Transformasi Modern, Boston: Houghton Mifflin, Co., 1965, khususnya Bab II “Invasi dan Pemberontakan di Tiongkok”.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan