Prisma

Humor di Tengah Masyarakat

Tinjauan Kelirumologis

Sebelum berbicara, apalagi membahas tentang sesuatu, seyogianya terlebih dahulu perlu mengenal dan memahami makna bahan sasaran yang akan kita bicarakan dan bahas. Bahkan apalagi yang dinamakan humor.

Humor sering disebut, dibicarakan bahkan dibahas di Indonesia namun sayang dalam lingkup makna yang dangkal belaka. Humor masih lebih sering ditafsirkan secara sangat awam — untuk tidak menggunakan istilah terbelakang — pada jangkauan makna yang sempit. Yang dianggap sebagai humor, lazimnya masih terbatas pada sekadar lelucon, dagelan, lawak, lucu-lucuan, sesuatu yang bisa ditertawakan. Pendeknya sesuatu yang sekadar main-main, sama sekali tidak perlu dianggap serius. Bahkan sering humor dimanfaatkan sebagai apologi, pemaaf sikap dan perilaku yang keliru.

Seperti halnya seorang pejabat, setelah keteteran menghadapi dampak dari sikap dan perilakunya yang melecehkan kaum wartawan, kemudian sambil berhaha-hehe berupaya memaafkan dirinya dengan dalih “Itu kan cuma humor!” Maka, tanpa disadari, posisi humor di tengah kehidupan masyarakat di satu sisi memang dianggap sesuatu yang menyenangkan, namun di sisi lain diletakkan pada lokasi yang kurang serius, tidak perlu terlalu dianggap perlu, terbelakang, bahkan cenderung kekanak-kanakan sehingga tidak layak bagi orang dewasa yang benar-benar sudah dewasa dan serius. Semua itu masih diperkuat lagi oleh beberapa (tidak semua) insan yang berprofesi sebagai pelawak yang menampilkan karsa dan karya yang memang kurang bermutu hingga memang layak dinilai sebagai sesuatu yang tidak perlu dianggap serius. Maka komentar pelecehan seperti, “Ah, itu kan cuma humor!” memang masih cukup merajalela disana-sini.

Padahal semua itu jelas keliru bahkan tragis. Makna humor yang sejati sama sekali tidak sedemikian dangkal, sempit hingga layak dilecehkan. Malah sebaliknya!

Sebelum mulai menelaah dan menerawang apa yang dinamakan humor, perlu terlebih dahulu kita sadar dan mengakui bahwa kata humor itu sendiri bukan berakar pada kebudayaan dan peradaban “asli” bangsa Indonesia. Maka tanpa mengurangi rasa kebangsaan dan kebanggaan nasional, dalam hal humor kita perlu jujur dan tulus membuka diri untuk menerawang dan menelaah proses kelahiran sampai tumbuh-kembang terminologi humor di kawasan budaya bukan terbatas pada Indonesia sendiri.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan