Kasus Humor Politik Era Pra-Reunifikasi
Ada kecenderungan, dalam iklim politik tertutup dan presif seperti di mantan Jerman Timur dulu, humor politik tumbuh dengan subur. Dapatkah ditarik satu pelajaran dari sana? Pasalnya, di balik ini tersirat satu keprasrahan hidup, yang akhirnya merugikan pembangunan di mantan Jerman Timur dalam pasca-reunifikasi.
Enam-belas tahun sudah Walter Ulbricht, bos Partai Komunis Jerman Timur (SED), merangkap kepala negara itu berkuasa. Tatanan politik yang dibangunnya kian lestari, kokoh tak tergoncangkan — tentu didukung oleh laskar dinas rahasianya yang tersohor canggih, die Stasi. Hanya, sebagai Generasi 45, yang bersama Uni Soviet sukses melakukan Serangan Umum di Berlin,1 ia makin tak populer di masyarakat. Alhasil, tercatat pada tahun 1969,2 pribadinya mulai menjadi santapan humor politik.
Konon, suatu ketika, Ulbricht berkunjung ke salah satu koperasi pertanian. Topik yang hangat dibahas adalah, penanggulangan masalah pangan yang sedang dihadapi Jerman Timur.3 Nab, untuk memecut panenan kentang, berlangsunglah perdebatan sengit di seputar piliban antara kentang-pagi (yang ditanam pada awal musim) dan kentang-petang (yang ditanam menjelang akhir musim). Merasa sebagai Bos Partai dan Kepala Negara, Ulbricht lantas terjun urun-rembug: “Kawan-kawan tercinta! Kita tak perlu kentang-pagi dan kentang-petang. Yang penting, siang harus ada kentang di atas meja.”
Sejak tahun itu, humor politik bersifat pribadi tentang salah seorang pejuang dan pendiri Jerman Timur ini kian gencar mengalir. Apalagi, dengan usianya yang kian senja, 75 tahun, ada keyakinan, bahwa aikiu bertambah gawat, dan ogah tanggap terhadap pergeseran keadaan — bak domba, dan domba gunung pula, yang tak tersentuh oleh modernisasi.
Hatta, tahun 1970, Ulbricht mengadakan lawatan ke galeri lukisan Zwinger di Dresden yang kesobor itu. Meskipun buta sejarah sastra, namun ia selalu ngotot mencoba menebak siapa pelukisnya. Keplesetnya, ia terus menerus keliru. “Itu lukisan Pascal ya?” Sang pemandu galeri terpaksa mengoreksinya: “Maaf Kawan, ini karya Van Gogb”. Tak berapa lama kemudian, sang pemandu harus menghadapi situasi yang kurang enak. Ulbricht yakin, bahwa lukisan yang di depan hidungnya itu karya Rubens. Sayang seribu sayang, yang benar, kata pemandu, Rafael punya kerjaan. Meskipun beberapa kali kepleset, namun pada lain kesempatan, mulut sang kepala negara pun tak kendor buat njeplak: “Domba gunung Kaukasus?” tebaknya. Sang pemandu galeri terperangab. Dengan hati was-was, ia membalas: “Maaf Kawan. Yang kawan libat itu bukan lukisan, melainkan kawan sendiri dalam kaca” — dan sialnya, wajah Ulbricht yang berjanggut khas itu ya mirip domba.4
Humor politik tentang bos negara ini memang tiada surutnya. Bahkan, ketika ia dicopot tahun 1971,5 aikiu dombanya itu belum juga menyadarkan dirinya. Maklum, seperti yang lazim berlangsung di negara-negara Komunis, budaya mundur memang tak dikenal. Paling tidak, sebagai sesepuh, dia mestilah dihargai. Maka, leluconnya dua tahun kemudian: Ulbricht berbicara selama enam jam dalam kongres Partai Komunis. Cuma, tak sebuah media-massa pun yang memuatnya. Mengapa? Ia hanya berbincang dengan satpam gedung, agar diperkenankan masuk.
Setelah ia dikotakkan lewat suksesi super-mulus, harapannya, tentu saja dilimpahkan kepada penggantinya, Erich Honnecker6. Namun ihwal aikiuynya, peringkatnya juga setali tiga uang:
Menjelang krisis besar tahun 1980, kabarnya, pada kesempatan perayaan hari ulang tahun pendiri negara Uni Soviet, sampailah walikota Berlin Timur ke patung Lenin yang berdiri tegak di Alexanderplatz. Setelah meletakkan karangan bunga di bawah kakinya, tiba-tiba terdengar mbab Lenin menggaib: “Tolong dong, disediakan kuda. Sudah terlalu lama saya berdiri.” Sang walikota tentu terperanjat. Segera dia laporkan hal ini kepada Honnecker. Keesokan harinya, bos Jerman Timur dan Walikota Berlin Timur bergegas menuju ke Alexanderplatz. Namun, setelah lama menanti, ganjelan Lenin tak juga menggaib. Sang walikota tentu kecewa. Demikianlah, ia menghampiri patung Lenin kembali, setelah bosnya, lenyap dari pandangan mata. “Kenapa kawan tidak bicara kepada kawan Honnecker?” tanyanya. “Yang saya minta kuda. Dan bukan keledai.
1 30 April 1945, Wehrkrise “Ulbricht” masuk ke Berlin dari kawasan Uni Soviet dan memperoleh order dari pasukan merah untuk membangun administrasi, lihat, Wolf-Ruediger Baumann, “Zettafel zur Geschichte der SBZ/DDR von 1945 bis August 1989, dalam Der Fischer Weltalmanach – Sonderband DDR (Frankfurt/Main: Fischer, 1990), hal. 98; Wolfgang Kenntemich, Manfred Durniok dan Thomas Karlauf,
2 Lelucu politik Jerman Timur dalam tulisan Das war die DDR (Berlin: Rowohlt, 1993), hal. 23.ini dikutip dari Reinhard Wagner, DDR-Witze (Berlin: Dietz Verlag, 1994).
3 Tahun 1968, memang tercatat sebagai tahun krisis — setelah renteten krisis tahun 1953, 1956, dan 1964, lihat, Wilhelm Bleek dan Johannes L. Kuppe, “Deutschlands Perspektiven” dalam Der Fischer Weltalmanach – Sonderband DDR (Frankfurt/Main: Fischer, 1990), hal. 21.
4 Durniok dan Thomas Karlauf, Das war die DDR (Berlin: Rowohlt, 1993), hal. 23.
5 Tanggal 3 Mei 1971, dengan dalih “sudah topp” (tua, ompong, pikun, penyakitan), Sekjen Partai Pariut Arit Jerman Timur, Walter Ulbricht memohon untuk direcall dari semua jabatannya, lihat, Ibid., hal. 20; juga Wolfgang Kenntemich, dkk, op. cit., hal. 196.
6 Eckart D. Stratenschulte, op. cit., hal. 23; Wolf-Ruediger Baumann, loc. cit., hal. 120.