Prisma

Ilmu-ilmu Sosial Indonesia: Mencari Pendekatan dari Masa ke Masa

Ilmu-ilmu sosial selalu mengandung preferensi nilai dan kepentingan tertentu yang menentukan arah perkembangannya. Penelusuran sejarah menunjukkan bahwa ilmu-ilmu sosial Indonesia sangat nyata peranannya dalam legitimasi dan rekayasa sosial sesuai dengan kebutuhan zamannya. Dominasi pendekatan budaya dalam ilmu-ilmu sosial Indonesia bukanlah suatu kebetulan, mengingat alasan sejarah, latar belakang sosiologis serta tuntutan rekayasa sosial.

DIPILIHNYA suatu pendekatan tertentu oleh komunitas ilmuwan sosial sudah barang tentu tidak dilakukan secara acak, tanpa alasan historis dan praktis. Demikian pula halnya dengan yang terjadi dalam perkembangan ilmu-ilmu sosial di Indonesia. Bila hingga dewasa ini pendekatan budaya masih dianggap dominan dalam ilmu-ilmu sosial di Indonesia, maka sudah barang tentu pendekatan tersebut memiliki akar sejarah serta pertimbangan praktis tertentu yang mendasarinya.

Dalam pembahasan ini, pendekatan budaya dipahami sebagai salah satu cara kerja dalam ilmu-ilmu sosial yang menjadikan budaya sebagai variabel independen dan hal-hal yang bersifat nonbudaya sebagai variabel dependen. Pendekatan budaya berpretensi menjelaskan realitas sosial berdasarkan faktor-faktor budaya melalui proses induksi maupun deduksi. Dan dengan demikian sekaligus menunjukkan sifat empiris-analitis.1


1 Yang dimaksud dengan ilmu bersifat empiris-analitik adalah sistematisasi metodis pengetahuan informatif yang disusun melalui proses observasi, didorong oleh kepentingan teknis dan tindakan rasional bertujuan serta diungkapkan melalui proposisi deduktif-nomologis yang terwujud dalam praktek kerja. Lihat, Thomas MacCarthy, Teori Kritis Jurgen Habermas. Cambridge, Massachusetts Institute of Technology Press, 1978, hal. 61-68.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan