Pendahuluan
Perubahan besar dalam hampir semua lapangan hidup masyarakat sedang melanda daerah Cilegon dan sekitarnya pada masa akhir-akhir ini. Jalan raya yang menghubungkan daerah ini dengan Merak dan Anyer ke arah Barat dan Serang ke arah Timur, yang dahulu bengkak-bengkak penuh kudis, sekarang telah licin seperti dijilat malaikat. Di atasnya merayap berpuluh-puluh colt dan sejenisnya yang memuat orang maupun barang. Desa Jombang Wetan—nama desa Cilegon yang sesungguhnya, sekarang disebut dengan istilah yang lebih mentereng: kota Cilegon—telah menjadi lebih ramai, sibuk, dan semarak dengan pendatang-pendatang baru dari luar yang membawa gaya dan sikap hidup yang berbeda dari warga masyarakat setempat.
Kehidupan malam yang selama ini kelam di antara warna stereotip “jawara” dan “sihir”, sekarang telah berubah menuju bentuk kenikmatan dan kesenangan masyarakat urban. Sebuah bioskop telah dibuka pada tahun 1973. Sesuai dengan selera lama, atau selera lama yang telah diberi bentuk baru, film-film silat lebih disukai daripada jenis lain. Di pinggir jalan dekat pasar, pedagang kaki-lima menggelar barang dagangannya sampai larut malam. Kios-kios di pasar utama dan toko-toko di pinggir jalan raya penuh dengan barang-barang model baru yang selama ini dianggap lebih sesuai dengan selera orang kota, seperti: jeans, kaset, radio transistor, dan lain-lain.
Harga kios dan toko melonjak dengan pesat. Kios pada tempat yang strategis dari sudut pemasaran yang dahulu berkisar pada harga 75.000 rupiah sekarang tidak ada lagi yang hendak menjual dengan harga sepuluh kali lipat. Los-los sayur yang kecil dan tidak berpintu sekarang tidak bisa lagi dibeli dengan harga 100.000 rupiah. Becak, kuli kasar, pedagang makanan, merupakan pemandangan baru yang mulai menyesakkan “kota”. Rumah-rumah baru dibangun dengan gaya arsitektur modern dari bahan tembok dan batu, sebagian besar dihuni oleh penduduk lama tapi sebagian lain telah kedatangan pendatang baru dengan cara menyewa atau indekos. Imigrasi adalah ciri-ciri utama dari pertambangan penduduk di daerah ini.
* Karangan ini merupakan bagian dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Trainee VI LP3ES di bawah pimpinan Utomo Danandjaja dan penulis sendiri. Penelitian permulaan (pilot-study) dilakukan pada tanggal 12-13 November 1974, kemudian dilanjutkan dengan penelitian yang sesungguhnya pada tanggal 15-21 Desember 1974. Responden terdiri dari tiga kelompok, yaitu: pengusaha (N=147), anak sekolah (N=111), dan kepala rumahtangga (N=319). Dalam penelitian ini diajukan 29 pertanyaan terhadap kelompok responden anak sekolah, 32 terhadap pengusaha, dan 47 terhadap kepala rumahtangga.