Prisma

Industri Sex: Sebuah Tinjauan Sosio-Ekonomis*

Masalah serta batas-batasnya

Masalah sex cukup luas terbuka untuk dipelajari. Pada saat yang sama ia serentak menjadi masalah yang bisa dipelajari dari berbagai cabang disiplin. Ia menjadi bahan studi biologis, ilmu-ilmu sosial ataupun studi moral-keagamaan. Atau bisa juga disoroti dari segi institusi legal (hukum) suatu masyarakat. Ia bahkan menjadi bahan yang tak kunjung habis dibahas dalam setiap cabang kesenian. Di luar perlengkapan kulturil dengan mana kita menerangkan dan menampilkannya, sex adalah sebuah pengalaman, sebuah kekuatan yang biasa dalam kehidupan. Ia mewarnai banyak pola tingkah laku kita sehari-hari, dan telah menjadi dasar komunikasi serta pola hubungan sosial.

Barangkali issue besar mengenai sex adalah dalam hubungan dengan distribusi dan kemungkinan untuk memperolehnya. Yaitu menyangkut persoalan dengan siapa dan dalam kesempatan mana kita dimungkinkan untuk mengalami kenikmatan sexuil. Kwantitas dan penyaluran ekspresi sexuil yang bisa diperoleh, dipengaruhi oleh kebiasaan sosial (social mores) dan gaya kulturil (cultural style) dari setiap masyarakat.1¹ Mungkin sekali tingkat minat terhadap sex adalah faktor yang konstan dalam suatu masyarakat. Kebutuhan terhadap sex akan tetap ada selama ada masyarakat manusia. Akan tetapi ada juga sikap yang tidak terlihat dan pada fihak lain ada juga penyaluran sex secara institusionil dalam suatu masyarakat tertentu. Dalam perkembangan zaman banyak yang telah sampai pada suatu keyakinan bahwa etika sex yang serba menekan dan pengaruhnya terhadap tingkah laku dan sikap kita, telah berubah ke arah pandangan yang lebih longgar. Ini tentu saja dalam perkembangan zaman akan lebih berlaku untuk kota-kota besar. Namun penilaian yang lebih teliti mengungkapkan, bahwa pandangan yang bersifat longgar (permisif) tersebut juga belum mewarnai masyarakat seluruhnya. Banyak sikap yang masih dilatari kultur dan kebiasaan setempat. Karena itu akan ada pelbagai respons serta variasinya. Namun, sekurang-kurangnya ada dua respons kulturil yang saling kait mengait walaupun secara fundamentil bertentangan.² Dari respons kulturil tersebut “gaya serba menekan” dari masa lalu akan diganti. Namun persoalannya apakah itu pada gilirannya akan menumbuhkan etika sex baru yang lebih dogmatik dan kurang toleran di masa mendatang, tentu masih perlu dilihat lebih lanjut. Respons yang menolak “etika serba menekan” dalam bidang sex bisa dinamakan revolusi sex. Ia meliputi berbagai kelompok masyarakat, berbagai jenis opini, sub-kultur dengan gaya hidupnya yang bebas.


* Penulis menyampaikan terima kasih kepada Dr. Mely G. Tan yang telah membaca seluruh naskah serta memberikan saran-sarannya.

1 George Csicsery, Industri Seks, Buku Signet, hal. XIII. 2 Ibid., hal. XIII-XV.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan