Prisma

Industrialisasi Berbasis Inovasi Teknologi

Peranan Transfer Teknologi Bagi Pengembangan Usaha di Daerah*

Dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II (PJP II) jumlah negara yang memasuki era industrialisasi makin meningkat sehingga persaingan makin tajam.Untuk meraih kesuksesan, kebijaksanaan mesti mengacu kepada tindakan yang dapat menciptakan peluang pasar. Inovasi teknologi menjadi hal yang makin penting, sedangkan transfer teknologi merupakan strategi yang akan mempercepat proses lahirnya produk dan usaha yang inovatif di tingkat daerah.

Dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap ke II, arah pembangunan Indonesia memprioritaskan pada peningkatan pembangunan di sektor industri. Agar industri tumbuh semakin cepat dan dinamis sekarang dan yang akan datang, maka industrialisasi harus semakin mengutamakan efisiensi, nilai tambah yang memiliki daya saing pasar, serta terus ditumbuhkembangkan sebanyak mungkin partisipasi penduduk dalam kegiatan industri di daerah-daerah sampai ke tingkat pedesaan.

Industrialisasi yang efisien, menciptakan nilai tambah produk yang berdaya saing, tidak mungkin terlepas dari peran inovasi teknologi secara total atau modifikasi produk. Produk-produk inovasi tersebut akan memberikan dampak kumulatif yang lebih besar lagi bagi kehidupan masyarakat, jika dijadikan sebagai landasan untuk mendirikan perusahaan atau mengembangkan perusahaan yang sudah ada, terutama perusahaan yang berskala kecil menengah (Small and Medium sized Technological Company, SMTC).

Menumbuh dan mengembangkan SMTC sampai ke tingkat pedesaan tidaklah mudah. Di samping membutuhkan keahlian, keterampilan, dan motivasi individu yang tinggi juga memerlukan sistem organisasional pendukung yang efektif untuk sukses.

Pertanyaan yang patut dijawab adalah bagaimana menumbuhkembangkan inovasi teknologi, sehingga produk-produk baru atau modifikasi menjadi semakin banyak dan perusahaan berbasis produk inovasi teknologi tersebut menjadi semakin bertumbuh. Pembahasan berikut dimulai dari beberapa pengalaman industrialisasi, kemudian inovasi teknologi tepat guna, perusahaan berbasis produk inovasi teknologi, dan transfer teknologi sebagai suatu strategi untuk menumbuhkembangkan SMTC.

Industrialisasi: Beberapa Pengalaman

Strategi industrialisasi yang telah diterapkan oleh beberapa negara berkembang menunjukkan pertumbuhan yang bervariasi, begitu pula tingkat kesuksesannya.

Aljazair sejak 1977 memulai industrialisasi dengan mendirikan perusahaan-perusahaan industri berskala besar yang kapital intensif dan teknologi impor. Dalam tahun 90-an (1990) strategi ini ternyata tidak memberikan hasil yang memuaskan karena telah menciptakan ketergantungan bangsa Aljazair yang sangat tinggi kepada pemilik teknologi. Hal ini telah memperkecil peluang penduduk pedesaan untuk berpartisipasi dalam industrialisasi nasional.1

Brasil menerapkan strategi hampir sama dengan Aljazair sejak 1975 dan dapat dikatakan berhasil terutama dalam mengantar negara ini menjadi pengekspor beberapa produk manufaktur. Namun dalam tahun 90-an (1990), negara ini dihadapkan kepada masalah baru yaitu meningkatnya kemiskinan di daerah pedesaan.2

Sebaliknya Taiwan (1955) dan Korea Selatan (1964) pada awal era pembangunannya, menerapkan strategi industrialisasi yang menyebar. Skala prioritas awal adalah pada penumbuhan dan pengembangan perusahaan-perusahaan industri skala kecil dan berbasis teknologi ringan. Dimulai dengan industri pengolahan hasil-hasil pertanian sampai dengan industri mekanik dan elektronik (1984/85). Strategi ini menurut banyak ahli telah mendidik dan memberikan kesempatan beradaptasi bagi penduduk kelas menengah dan bawah negara-negara tersebut dalam kehidupan berindustri. Strategi yang demikian telah mempercepat mereka memasuki era industri moderen yang menggunakan teknologi tinggi.3

Indonesia cenderung menerapkan strategi campuran (mixed strategy). Di satu sisi membangun perusahaan industri yang kapital dan teknologi intensif, terutama yang membuat produk-produk dasar untuk kebutuhan pembangunan kegiatan-kegiatan industri hilir. Dalam waktu yang sama perusahaan industri berskala kecil dan menengah ikut pula ditumbuhkembangkan.


* Makalah ini merupakan pidato ilmiah yang disampaikan pada Rapat Senat Luar Biasa Universitas Andalas, Padang 13 September 1993

1 Claude Courlet, Les Industrialisation du Tiers Monde, Ed. Syros/Alternatives, Paris, 1990.

2 James M. Utterback, “The Innovative Process: Evolution vs. Revolution,” Proceedings of a Symposium for Senior Executives, Ed. M.I.T, 1981; W.C. Baum and S.M. Tolbert, Investing in Industrial Development: lesson of World Bank Experiences, The World Bank, Washington, D.C, 1985; Courlet, Op.cit.

3 Utterback, loc.cit; Baum and Tolbert, op.cit.; Courlet, op.cit.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan