Prisma

Intelektual Publik dan Ketimpangan Sosial di Indonesia yang Neoliberal

Intelektual sebagai subjek sosial adalah bagian atau setidaknya ikut bertanggung jawab atas problem ketimpangan sosial yang kita kritik dan ingin diatasi. Untuk memahami posisi dan peran intelektual dalam kaitannya dengan kekuasaan, modal, dan budaya, tulisan ini menggunakan tesis Daniel Dhakidae dan Vedi Hadiz. Untuk merekam dan memahami hubungan antara intelektual dengan negara, penulis menempatkannya dalam dua lokus kajian. Pertama, mengkaji beberapa artikel Prisma terkait. Kedua, meletakkannya dalam konteks perubahan dan masalah yang dihadapi perguruan tinggi di Indonesia dewasa ini menurut kondisi material sejarah yang membentuknya. Dalam kerangka itu, tulisan ini mengurai berbagai jenis ketimpangan sosial yang direproduksi dan dipertahankan melalui kebijakan dan praktik kelembagaan di perguruan tinggi. Tulisan ini juga menyoal dampak marketisasi pendidikan tinggi yang mengekang dan kerap membatasi imajinasi akadem, melalui permutasi pembangunan ala Orde Baru yang memenuhi tuntutan rezimentasi neoliberal. Dengan meminjam universitas sebagai “tempat berkumpul” sebagaimana dicetuskan Daniel Dhakidae, kita bisa menimbang ulang posisi sosial intelektual publik yang makin terdislokasi di tengah konfigurasi ketimpangan sosial yang berlapis dan tumpang tindih.

Kata Kunci: intelektual publik, kekuasaan, ketimpangan sosial, neoliberal, perguruan tinggi

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan