Pembicaraan Islam selama ini, selalu ditangkap dalam pola dikhotomis antara modern dengan tradisional. Dan ini terutama terasa seperti keberadaan Muhammadiyah dengan Nahdlatul Ulama. Namun demikian, perubahan sosial-politik yang mendasar dalam tahun-tahun terakhir menyebabkan pola dikhotomis ini juga kehilangan relevansi dan analitisnya. Untuk itu, pola gerakan pemikiran dan pengembangan organisasi mungkin sebagai alternatif.
MENJELANG berakhirnya abad ke 20 ini nampak dengan jelas adanya perubahan pola pengelompokan kultural di kalangan ummat Islam Indonesia. Ini akibat dari perubahan mendasar dari perikehidupan politik yang mengutamakan masyarakat (society) sebagai basis massa dan basis legitimasi kekuasaan, bergeser ke arah perikehidupan politik yang lebih mengutamakan negara (state) sebagai basis orientasi terhadap kekuasaan. Akibatnya, pola pengelompokan kultural di kalangan ummat Islam Indonesia yang telah terbentuk sejak masa awal abad ke 20, yakni pola pengelompokan bipolar, berubah menjadi pola pengelompokan yang menyebar dan lebih mengesankan seperti sebuah tatanan yang konfiguratif.