Untuk menyebutkan apakah sesuatu benda ekonomi atau bukan syaratnya antara lain adalah: kegunaan dan kelangkaan. Semakin berguna buat pemenuhan kebutuhan manusia semakin bernilai sesuatu sebagai benda ekonomi. Demikian pula kelangkaan. Semakin langka, semakin bernilai. Bilamana kedua syarat tersebut terpenuhi dalam suatu waktu dan tempat tertentu maka dia disebut komoditi. Ada satu hal yang disebut komoditi justeru dengan alasan sebaliknya. Bukan karena langka tetapi karena berlimpahruah: yaitu kemiskinan yang menghantui lebih dari separuh dunia. Kemiskinan sudah menjadi komoditi yang diperjualbelikan dalam seminar, omong-omong, pidato-pidato seremoni, dan retorika politik tanpa adanya usaha radikal untuk dibasmi. Salah satu bentuknya adalah perdagangan kemiskinan di kalangan Jagoan Pembangunan, yang dari saat ke saat senantiasa sibuk berkata: Wah maaf kawan, sekarang sudah jam penerbangan Saya harus lepas landas bersama Jagoan Pembangunan Kopor sudah rapi dan badan dijaga tiga suntikan Setumpuk travelers checks, serta segenggam obat kesehatan.
Jagoan pembangunan itu kelompok cerdas serta mulia Pemikiran kami dalam, pandangan kami menjagat raya Walaupun kami bergaul dengan kelas paling-ningrat Pikiran kami selalu dengan rakyat yang melarat.
Di ruang sidang Hotel Sheraton berbagai negara Kami menyumpahi maskapai multinasional Tidak sukar mengacung tinju pada kezaliman Di kamar yang sejuk dari jarak kejauhan
Kami diskusi kurang-gizi sambil mengunyah daging sapi Kami mengamati penyebab kelaparan seraya minum susu berkopi Apakah problemnya banjir di Asia, atau kemarau di Afrika Kami hadapi setiap isyu dengan mulut terbuka
Kami mengimpor konsultan bijak serta bestari Yang memecahkan persoalan dengan kesulitan terperinci Yang selalu mengusulkan supaya seminar lalu seminar lagi Sehingga makan lezat terjamin setiap hari
Kata orang konsultan itu tahu jam berapa sekarang Dengan meminjam arloji tangan anda, dan membacakannya Tapi gajinya yang mahal itu masuk kita punya akal Karena obyeckan belakangan, bisalah jadi garapan.
Struktur kalimat dalam bahasa Jagoan Pembangunan Lentur dan tegang, gemerincing dan berdandan Seperti mantera kami baca kata epigenetic Sedikit genit seperti micro, macro dan logaritmik
Bagi kami istilah tinggi itu untuk bernikmat-nikmat Supaya nampak cendekiawan, cerdas dan maut Dan walaupun yang serba mapan itu tidak akan teringsut Namun perbendaharaan kata kami jelas makin meningkat
Jika diskusi makin mendalam dan anda merasa bingung Ini resepnya supaya malu anda jadi minimum: Tunjukkan tegas, anda juga cendekiawan Bertanyalah seram: “Inikah yang namanya pembangunan?”
Atau bilang: “Dalam praktek itu memang baik Tapi dalam teori itu tidak jalan” Beberapa orang akan heran mendengar logika begini Tapi mayoritas kagum renungan sedalam ini
Rumah kelompok Jagoan Pembangunan indah dan mewah Sesak dan mahal, bertumpuk serta gemerlapan Di sana sini ada pula karya seni pedalaman Sebagai bukti sikap hidup yang kerakyatan.
Wah cukup sudah bersajak-sajak-tugas kini menghimbau! Kewajiban kami suci benar serta beratnya terlampau Kami perlu bahu kuat memikul beban tugas yang berat Seperti juga kami perlukan rakyat yang hidupnya melarat Sajak asli berjudul “Development Set”,