Sebuah gedung mewah di tengah perkampungan rakyat biasa. Sekeliling dipagar tinggi, memisahkan penghuninya dari masyarakat sekitarnya. Masyarakat petani kecil kebun buah-buahan dengan pondok-pondok mereka yang serba sederhana. Gedung mewah demikian tidak sendiri. Dia dibangun berserak-serak di antara kebun dan rumah penduduk, rakyat kecil.
Suatu jamuan makan malam dalam sebuah rumah demikian. Tuan dan nyonya rumah dari sebuah perusahaan multinasional yang besar. Tamu-tamu orang asing dan orang Indonesia. Semuanya datang dengan mobil-mobil mewah, melalui jalan-jalan sempit yang belum diaspal. Begitu lewat pintu gerbang yang tinggi, orang tiba di dunia lain. Dunia Kalifornia dengan rumah yang mewah dan terang cemerlang di tengah kegelapan kebun-kebun buah-buahan atau perkampungan di sekelilingnya.
Tamu-tamu berjabatan tangan atau berciuman dengan tuan dan nyonya rumah. Musik klasik pelahan ke luar dari dua pengeras suara stereo. Kamar tamu dihiasi beberapa lukisan oleh pelukis Indonesia, di atas meja di sudut kamar beberapa piring porselen Ming, dan dua lemari antik, sebuah lemari antik Palembang dan sebuah lagi dari Yogya.
Pembicaraan tentang tender-tender besar yang hendak diperebutkan, yang dibelanjai oleh Bank Dunia atau Asian Development Bank, atau dari dana-dana bantuan luar negeri negara-negara IGGI, skandal Pertamina (mereka menggeleng-gelengkan kepala bagaimana itu bisa terjadi, sedang beberapa tahun sebelumnya mereka memuji Ibnu Sutowo setinggi langit sebagai menejer Indonesia yang terbaik, (orang yang bisa melakukan sesuatu!), masalah mereka dengan orang-orang jawatan pajak, imigrasi, dengan birokrasi di Jakarta, buku roman terbaru yang diterbitkan di Amerika, ancaman kaum komunis di Thailand dan Malaysia. Bagaimana pendapat tuan tentang domino teori? Ah, kalau Thailand jatuh di bawah kekuasaan kaum komunis, pasti Malaysia terancam. Dan kalau Malaysia jatuh ke bawah kekuasaan komunis, bagaimana Singapura? Indonesia?
Cerita tentang pakansi mereka ke Paris, ke San Francisco, ke Toraja, Danau Toba, dataran tinggi Dieng…
Di gubuk-gubuk buruk dari kepingan papan, potongan bambu, beratap plastik dan berdinding karton sobek, wanita, lelaki dan anak-anak tidur berdesakan di pinggir jalan kereta api di Senen, tidur di atas tanah yang hanya berlapis tikar sobek atau kertas koran tua dan plastik.
Di sini orang tidak bicara tentang pakansi ke luar negeri, belanja di Hongkong atau Singapura, harga barang di London dan Paris, membeli berlian di Amsterdam dan Brussels, harga saham-saham minyak atau pertambangan lain di bursa di New York. Di sini manusia Indonesia hidup rendah di atas tanah, setiap hari benar-benar bergulat mencari sesuap nasi dari… Tempat Buangan Sampah, Memungut Puntung Rokok di Jalan-jaLan!
