Prisma

Janji buat Pangeran

Lima Juni 1596. Empat buah kapal de Houtman, bentara armada-armada Belanda, merapat ke pelabuhan Banten. Sauh belum lagi dilabuhkan. Tetapi pedagang-pedagang Portugis yang sudah berada terdahulu di kawasan sekitar, menjejakkan kakinya ke atas geladak. Mereka menyalami para pelaut Holandia. Mereka “menyampaikan hormat yang sedalam-dalamnya dan menjelaskan suasana, memuja-muja kekayaan dan kesuburan pulau Jawa.” Di Banten pelaut-pelaut Holandia mengikat perjanjian pertama kalinya dengan Indonesia, yang sejauh ini pernah dikenal. Di sana para pangeran Banten di bawah kuasa Sultannya bersumpah: Demi Allah Tuhan kami dan tuan-tuan. Tuan-tuan telah datang dengan empat buah kapal dan telah kami lihat surat kuasa yang diperintahkan pangeran Maurice dari Nassau untuk ditunjukkan kepada kami, di mana Yang Mulia menawarkan persahabatan dan persekutuan kepada kami. Tuan-tuan akan memperkuat persahabatan tersebut. Demi Allah, kami merasa puas untuk memiliki suatu ikatan persekutuan serta persahabatan abadi dengan Baginda Pangeran dan dengan tuan-tuan, dan kami bersumpah untuk mempertahankan persahabatan dan persekutuan ini dan memerintahkan semua rakyat kami untuk melaksanakannya (H.B.H. M. Vlekke, Nusantara, a History of Indonesia).

***

Jelas ini bukannya pertemuan pertama antara Indonesia dengan dunia Barat. Akan tetapi benar bahwa ini ikrar pertama yang pernah dibuat dengan Belanda. Ini pemula dari serentetan operasi sistematis kalangan asing di bumi Indonesia. Dan sejak saat itu yang dihadapi bukanlah empat buah kapal Holandia, tetapi korporasi bermodal raksasa, ditunjang oleh dukungan otoritas setempat yang menjamin pula dukungan rakyat banyak di bawahnya. Sejak itu terpateri dilema-dilema: menentukan kebutuhan sendiri atau ditentukan dari luar: partisipasi aktif dalam kegiatan ekonomi atau koersi.

Politik kekuasaan berproses dalam sejarah. Orang dibentuk dan membentuk dirinya menurut pola acuan tersebut. Struktur yang berlangsung melahirkan kemiskinan dan kemiskinan melahirkan kebudayaan kemiskinan yang akhirnya menyebabkan lagi kemiskinan. Semua terjaring dalam lingkaran yang tidak berujung dan tidak berpangkal antara struktur dan kultur.

***

Dari sisi mana memecahkannya? Merombak struktur, dan jenis kebudayaan baru bertumbuh dengan sendirinya, atau memasukkan kebudayaan baru untuk merombak struktur? Pilihannya: merombak kultur, kultur bawah. Kultur bawah bukan saja buruk, tetapi sudah disebut penyakit: dia tradisionil, melawan arus perubahan, statis, terbelakang, hampa inisiatif, irasionil, tidak efisien. Itulah predikat masyarakat tani dan lingkungannya. Kebudayaan atas harus dikejar karena di sanalah kemajuan.

Demi kemajuanlah teknologi pertanian moderen hasil perusahaan raksasa dimasukkan. Pupuk kimiawi, pemberantas hama mengalir masuk. Tetapi yang moderen mahal harganya. Mengijon panenan, bila gagal, menjual tanah, hartanya terakhir, adalah pengalaman yang lumrah. Proses pemiskinan memasuki lagi lingkaran yang sebelumnya ingin dipotong. Dan berita kelaparan membersit dari mana-mana.

Tetapi janji pemasukan teknologi moderen sudah diikat: operasi perusahaan-perusahaan raksasa sulit dibatalkan. Surat kuasa sang pangeran harus dihormati. Janji diikrarkan sekali lagi: Kami bersumpah untuk mempertahankan persahabatan dan persekutuan ini dan memerintahkan semua rakyat kami untuk melaksanakannya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan