Prisma

Kabar, Surat Kabar, Gunjing, dan Media Sosial

Semua orang dianggap tahu apakah itu media dan apa itu sosial. Namun, ketika keduanya digabung menjadi media sosial (social media) pengertiannya berubah total menjadi sesuatu yang baru dan menunjukkan sejenis “binatang” baru, pemain baru dalam dunia media di luar paham di atas. Tidak diterbitkan seperti surat kabar, tidak disiarkan seperti radio dan televisi, akan tetapi di-post-kan (posting), dipamerkan (display), diumumkan dalam ruang internet. Tidak sekadar media seperti radio atau televisi, melainkan media dengan komputer menjadi dasarnya dan kecepatan menjadi etosnya serta ketelitian mungkin dijaga, namun ditunda berlapis- lapis hingga tidak lagi menjadi penting. Janji bahwa kesalahan akan dikoreksi pada posting berikutnya itulah yang disebut berlapis-lapis. Inilah makhluk baru yang lebih sering diasosiasikan dengan gunjing (gossip).

Namun, apakah memang benar ada perbedaan sangat substansial antara berita dan gunjing? Apakah serendah itu yang disebut gunjing? Buka dan periksalah Oxford English Dictionary. Di sana akan ditemukan gunjing atau gossip berasal dari dan berarti “Godsibb”godfather, godmother, baptismal sponsor, seseorang yang berhubungan dekat dengan Tuhan, yang dalam arti itu “berdarah biru.” Gunjing adalah percakapan antarpara “pemilik darah-biru” yang dekat hubungannya dengan sang Pencipta.

Ketika gunjing diterbitkan dan berada di dalam pasar, maka semua menjadi makhluk berbeda yang memiliki kaki dan tangan sendiri dan tidak bisa lagi dibela, dicerca, dan ditarik pulang dengan alasan apa pun. Apa yang dikatakan Vergilius, sastrawan Romawi, dua ribu tahun silam masih berlaku untuk zaman super-teknologi dewasa ini ketika fama— kabar/berita atau pergunjingan tentang skandal seks istana dituturkan sebagai berikut: “Tumbuh tenaga dalam gerak, berganda sejauh berjalan… langit ia cakar sebentar lagi. Dengan kaki tertanam di tanah, kepala ia gelantungkan di awan…”

Surat kabar cetak memungkinkan tertanamnya kaki “kabar” itu ke dalam tanah; perkembangan berita/ informasi/pengetahuan digital-internet memungkinkan kepalanya bergantung di awan. Tidak ada yang lebih cepat dari kabar pada masa informasi seperti surat elektronik, Twitter, Facebook, dan lainlain, yang hanya dengan mengetuk tuts di papan kunci komputer bisa menyebarkan kabar/gunjing serentak ke seribu tujuan sekeliling jagat.

Karena itu, tidak mengherankan dalam zaman informasionalisme gunjing diangkat ke tingkat tinggi dalam pesan layanan singkat, short message service, SMS, dan terutama Twitter yang tidak lain berarti medium berceloteh, bergunjing, meski sekaligus juga menjadi garis depan revolusi teknologi informasi, yakni “berita rakyat untuk rakyat, rakyat untuk pemimpin, pemimpin untuk rakyat, dan pemimpin untuk pemimpin”, di mana pun dan kapan pun.

Dari sini berita yang diagung-agungkan itu bisa berubah rupa. Tidak jarang berita tidak lebih dari big talk on small things, maka gunjing dalam Twitter dan semacamnya sangat sering menjadi small talks on big things—tempat presiden dan para menteri menyampaikan dan menuangkan isi hati masing-masing. Meski tidak jarang pula menjadi tempat mengecoh lawan politik, innuendo, provokasi, dan lain-lain; tempat anak-anak berceloteh tentang perjalanan—gunung yang didaki dan lembah yang dituruni bersama sesama kawan, baik lelaki maupun perempuan; tentang restoran tempat dia bersantap dengan aneka menu pilihan ikan bakar—small talks on small things, disertai gambar-gambar foto menggiurkan.

Terhadap soal itu mungkin muncul kekhawatiran yang berasal dari kaum tua. Sebaliknya, kaum muda justru merasa senang dan bahagia dalam kenikmatan. Namun, kekhawatiran tentang dua hal berikut ini bukan mengada-ada. Pertama, berpikir instan yang lebih merupakan reaksi sesaat terhadap rangsangan seketika. Orang tidak lagi berpikir dengan keseluruhan dirinya, tetapi berpikir dengan jari ketika menulis berita dalam media sosial lebih tergantung dari kecepatan jari daripada ketelatenan berpikir. Kedua, deep thinking membuang waktu karena yang jauh lebih diperlukan bukan menyelami soal sampai ke akar-akarnya, tetapi menjelajah soal sepanjang permukaan (oppervlakkig) sejauh mungkin dan sebanyak mungkin sampai tidak bisa dibedakan lagi mana informasi mana kebisingan (noise) atau mana gabah mana sekam.

Namun, pertanyaan yang juga patut dikemukakan apakah deep thinking itu perlu kalau sekiranya pekerjaan deep thinking sudah menjadi tugas dari segelintir orang yang memang dibayar untuk itu? Sumber berpikir dikontrak di luar, out sourcing, bukan lagi di dalam diri seseorang.•

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan