Prisma

Kaitan Industri Besar dan Industri Kecil: Menuju Management Payung

Pengantar

Tujuan dan arah pembangunan nasional yang ditetapkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara, berusaha mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur. Dan masyarakat adil dan makmur itu akan diwujudkan melalui pembangunan di berbagai bidang, di antaranya bidang ekonomi. Pembangunan ekonomi identik dengan pembangunan sektor-sektor ekonomi yang terdapat di negara kita ini, seperti sektor pertanian, kehutanan, perikanan, peternakan, pertambangan, industri, perdagangan, jasa-jasa dan lain-lain.

Sektor industri ternyata merupakan salah satu sektor ekonomi, yang dalam pembangunan ekonomi jelas merupakan salah satu sasaran pengembangan. Pengembangan industri yang menyeluruh, perlu diusahakan, hal ini mengingat pengalaman-pengalaman dari negara-negara maju bahwa sektor industri mampu menjadi soko-guru-nya pembangunan ekonomi. Sedangkan di Indonesia, sektor industri masih belum memperlihatkan peranannya yang menonjol dalam pemberian sumbangan pada pembangunan ekonomi.

Hal ini tidak berarti bahwa belum ada usaha-usaha untuk mengembangkan industri di Indonesia, melainkan usaha pengembangan industri yang pernah dilakukan dewasa ini nampaknya masih belum mampu untuk memperlihatkan adanya pengembangan industri yang menyeluruh secara kompak. Industri dalam kelas besar, sedang dan kecil belum serempak maju, malahan kadang-kadang kita melihat adanya gejala bahwa industri-industri besar yang masuk melalui proyek-proyek Penanaman Modal Asing telah menggangyang dan menghancur-luluhkan industri industri kelas sedang dan kecil yang sudah ada. Banyak contoh untuk ini; Coca-cola, 7-Up, Fanta, dan sebangsanya dalam tempo dua tahun saja telah melalap habis ratusan perusahaan limun kelas menengah dan kecil. Pernah pada akhir tahun 1975, pengusaha-pengusaha limun di Daerah Istimewa Yogyakarta, minta pada pemerintah lewat Kantor Wilayah Perindustrian dan Perekonomian setempat untuk melarang beredarnya minuman-minuman segar di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Usul itu dianggap “menggelikan” tetapi hal ini menunjukkan kenyataan bahwa industri kelas menengah dan kecil telah tak tahan lagi kalau harus bersaing melawan industri yang berkaliper besar. Barang-barang plastik yang merupakan produk dari industri-industri besar juga telah mematikan produksi sejenis yang menggunakan bahan baku tradisional.

Hal-hal semacam itu kiranya patut membuat kita prihatin, khususnya dalam rangka pengembangan industri yang kompak, demi pembangunan ekonomi yang menyeluruh, dan akhirnya demi kemakmuran bangsa Indonesia.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan