
Leo Suryadinata, Peranakan Chinese Politics in Java 1917-1942 (Singapura: Singapore University Press, edisi revisi, 1981), xvii + 193 halaman.
Buku ini merupakan buah ketekunan telaah yang luas pendokumentasiannya mengenai aliran-aliran politik kaum peranakan Tionghoa di Jawa sebelum Perang Dunia II. Bahwa di kalangan kaum peranakan Tionghoa terdiri dari kaum Sin Po (yang berorientasi ke Tiongkok), kaum Chung Hwa Hui (yang pro penjajahan Belanda) dan Partai Tionghoa Indonesia (P.T.I., yang menyebarkan benih patriotisnie) bukanlah konstatasi asli Dr. Suryadinata. Sejak berdirinya P.T.I. pada tanggal 25 September 1932 orang telah mengkonstatasi demikian. Jasa buku ini kepada para peneliti dan para peminat masalah minoritas keturunan Tionghoa di Jawa adalah penunjukan-penunjukan sumber yang terperinci di dalam koran dan majalah. Tapi memang harus diakui, sumber-sumber itu tidak tuntas, karena majalah-majalah seperti Liberty (Malang), surat kabar seperti Hong Po (Jakarta) tidak dimasukkan, padahal penting. Sumber-sumber lain yang terlewat adalah I.P.O. (Overzicht van de Inlandse en Maleis-Chinese Pers), arsip Bureau voor Chinese Zaken, arsip procureur generaal dan Politieke Inlichtingen Dienst. Menurut kenyataan arsip-arsip kolonial itu sangat membantu, terutama arsip laporan-laporan procureur generaal kepada gubernur jenderal jauh berbeda dengan laporan-laporan reserse politik kepada P.I.D. setempat. Ketika buku Dr. Suryadinata ditulis, semua arsip, termasuk arsip tahun 1942, telah dideklasifikasikan dan boleh dibaca oleh para peneliti. Kalau ini dilakukan saya yakin, bahwa penilaian terhadap dr. Tjoa Sik Ien, Oei Gee Hwat dan Siauw Giok Tjhan sebagai krypto-komunis tidak berdasar. Lain halnya dengan Tan Ling Djie yang agaknya telah menjadi komunis sejak di Leiden. Mereka bertiga yang disebut terdahulu, sejauh yang saya kenal di dalam perjuangan membela Republik Indonesia, lebih cenderung kepada kaum sosial-demokrat. Keterangan yang hanya diperoleh dari wawancara-wawancara yang terbatas sangatlah subyektif. Misalnya tak ada alasan untuk tidak mewawancarai Ang Jan Goan dan lain-lain tentang Sin Po dan Liem Koen Seng SH., tentang Liem Koen Hian.