Anak dan orangtua sering berselisih. Kakak dan adik berkelahi. Perselisihan dalam keluarga yang rukun tidak pernah diselesaikan secara benar. Dalam perselisihan semacam itu hampir tidak pernah diketahui dan tidak dipersoalkan siapa yang sungguh-sungguh salah dan siapa yang sungguh-sungguh benar. Yang penting di sana bukan sebabnya tetapi hasilnya yaitu keakraban keluarga setelah perselisihan.
Perselisihan didalam politik adalah perselisihan dengan perhitungan. Dia diatur oleh konstitusi, hukum, otoritas dan kekuasaan. Di sana orang dipaksa memilih cara dan saluran yang tepat untuk mencapai tujuannya. Bilamana pranata politiknya berjalan, maka perselisihan merupakan ventilasi yang sehat. Di sana orang bermain dalam perselisihan. Dan namanya pun permainan politik, yang berjalan menurut mekanisme konstitusional. Di situ kekuasaan adalah alat. Manusia yang memakai alat tersebut sadar sepenuhnya akan tujuan, dan karena itu rasional.
Namun, bilamana pranata pengatur perselisihan tidak lagi berfungsi maka kekuasaan akan berjalan sendirian. Sebaliknya, kritik dan perbedaan politik lantas berubah jadi aksi sepihak. Kekuasaan yang tadinya alat, kini menjadi tujuan. Kekuasaan yang seharusnya menyatukan, lalu bisa memecah-belah. Setiap warga terpisah dan mengasingkan diri satu dari yang lain oleh ketidak-percayaan. Semua saling mencurigai. Lalu-lintas pendapat tidak lagi berjalan. Tatanan politik berpijak hanya atas satu dasar yaitu kekerasan. Lantas kekerasan melahirkan ketakutan dan teror. Inilah yang terjadi kalau ada pemberontakan. Adalah paradoksal bahwa dalam pemberontakan semua warga terkumpul jadi satu; namun di saat yang sama semua terpisah dan tertutup satu terhadap yang lain. Semua terkumpul dalam ledakan senjata dan darah. Dan tragedi sejarah pemberontakan di mana pun selalu berakhir di sini.
Kenyataan yang sering tidak bisa dihindari adalah bahwa sejarah masih terpusat dalam monumental history. Yang dibahas adalah orang-orang besar dan peristiwa-peristiwa besar. Sejarah jenis ini memang dibutuhkan untuk meningkatkan kesadaran kewarganegaraan. Namun kesulitan dalam sejarah monumental adalah bahwa dia memuja akibat dan mengabaikan sebab. Memuja hasil dan mengabaikan proses. Memuja perubahan sosial dan politik dan mendiamkan benih-benih yang melahirkan dan membesarkannya. Hilang daripadanya semangat petualangan ke alam lampau. Sedangkan petualangan ke alam lampau hanyalah mungkin kalau sejarah dan sejarawan mampu menguras causes and contexts, akar-akar masalah dan konteksnya. Dalam rangka itu agaknya berguna mengajukan pertanyaan: siapa yang memberontak? Mengapa mereka berontak? Mengapa musti dengan pemberontakan?
Dengan jalan ini boleh jadi monumental history akan beralih menjadi critical history yang mencari warna, mencari nuansa, yakni manfaat pelajaran untuk masa kini dan mendatang. Di sana mungkin untuk mengajukan pertanyaan: kalau pemberontakan itu tidak terjadi … ? Apakah yang terjadi kalau G-30-S/PKI tidak meletus? Lantas serentetan pertanyaan dan kalimat lain akan menyusul. Kalau …, maka … ! Dan katanya, sejarah mungkin akan tampak dalam wajahnya yang lain. Namun sejarah bukanlah berpijak di atas kalau. Sejarah adalah produk kerja manusia di mana kalau dan pengandaian sejarah lainnya tidak membawa perubahan.
Namun, kalau sejarah bisa dirumuskan atas peri lain. Bukan lagi : kalau pemberontakan tidak pernah meletus … Akan tetapi kalau sekiranya kebijaksanaan politik berlangsung begini dan bukan begitu! Kalau cara menyalurkan pendapat adalah begini dan bukan begitu. Kalau sekiranya ini yang dilakukan dan bukan itu, mungkinkah pemberontakan dihindarkan? Dengan demikian maka pengandaian tersebut memungkinkan kita menilai kembali kebijaksanaan. Dan sejarah menjadi eksistensial. Sejarah memasuki dimensi hidup masa kini. Sejarah menjadi pertimbangan kebijaksanaan masa kini, dan masa lampau menjadi masa kini. Di dalamnya dikaji masalah dan akar masalah, Lantas timbul kesadaran yang utuh tentang bahaya dan bukan bahaya. Lalu terasa urgensi menempatkan aturan konstitusional dan pranata politik dalam proporsi sebenarnya. Ancaman dan rasa terancam berdiri di atas dasar yang utuh. Atas dasar itu kewaspadaan mendapatkan maknanya. Karena bilamana senantiasa merasa terancam maka nyamuk di pelupuk mata bisa berubah bentuk menjadi pesawat tempur. Dan usaha untuk membunuh nyamuk menghabiskan seluruh energi, karena untuk membunuh nyamuk dicari belati!