Prisma

Kalau Gagal

Seperti sudah dimulai pada nomor 3 yang lalu, Prisma menyajikan tulisan bebas yang tidak berhubungan dengan topik utama. Tulisan-tulisan seperti ini mempunyai arti yang cukup penting, berhubung relevansinya dengan masalah-masalah yang kita hadapi bersama di bidang keilmuan, kemasyarakatan, kebudayaan, kenegaraan dan sebagainya. Pembaca dan khalayak yang berminat, senantiasa kami undang buat mengirimkan tulisan-tulisan seperti ini. Merah.-

Menyoroti mahasiswa, biasanya yang dimaksudkan adalah mahasiswa yang berhasil, yaitu mahasiswa yang mampu menyelesaikan studinya kira-kira sesuai dengan jangka waktu yang direncanakan sekolah. Mengenai mahasiswa yang gagal belum banyak diketahui. Secara teoritis dapat dikatakan bahwa sebab-sebab utama dari kegagalan ialah kekurangan di bidang bakat, kekurangan minat, atau bisa dicari sebab-sebab di luar bakat dan minat.

Apa yang dimaksudkan dengan bakat sulit diteliti. Faktor utama ialah inteligensi umum yang biasanya diduga bisa diukur dengan Inteligensi Kwosien atau IQ. Faktor lain ialah inteligensi khusus seperti bakat untuk mekanika, matematika, abstraksi ruang, verbalisasi, main-main dengan quanta, tangan dingin, tapi bakat yang samasekali belum tersentuh penelitian yaitu bakat mengikuti ujian lisan atau tulisan (bakat spekulasi) dan memang tidak resmi, adalah bakat menanti bantuan teman seperti menyontek dan menyalin.

Minat ialah faktor maha penting yang diukur dengan daftar pertanyaan, tapi bagaimana hubungan antara bakat dan minat sampai sekarang masih tetap rahasia. Seorang yang berbakat tetapi tidak menaruh minat pada jurusan yang dipilih (karena bujukan orang tuanya) pasti gagal sebelum atau sesudah studi selesai. Untuk yang memiliki bakat terbatas tetapi tergila-gila pada teknik atau kimia (minat yang besar), ada harapan besar akan berhasil.

Salah satu faktor di luar bakat dan minat adalah cara belajar, seperti kemampuan mengatur waktu, membagi bahan, daya menaksir, jangka waktu yang perlu untuk mempersiapkan diri menghadapi tentamen, belajar di pagi hari atau malam, belajar sendiri atau bersama. Banyak mahasiswa meneruskan cara belajar yang menjadi kebiasaannya waktu belajar di SMA, padahal situasi SMA dan tingkat akademis jauh berbeda. Di SMA sang guru menjadi pemimpin utama dan menjelaskan semua langkah yang harus diambil sang murid. Di tingkat akademis mahasiswa harus berdiri sendiri dan mencari ilmu di bawah pimpinan sejumlah ahli yang kurang lebih setingkat dengan mahasiswa sebagai senior dan junior rekan. Yang diharapkan bukan relasi bapak-anak melainkan kakak-adik. Rupanya masih ada cukup mahasiswa (dan dosen) yang belum yakin tentang hal itu. Kita lihat gejala aneh seperti mahasiswa yang hanya belajar beberapa hari sebelum tentamen, seperti dulu mereka belajar beberapa hari sebelum ulangan. Ada mahasiswa yang gila kuliah dan tidak berani meninggalkan satu atau dua kuliah dan tidak bisa tidur kalau dalam buku catatannya ada beberapa halaman yang kosong.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan