Prisma

Kapasitas Modernisasi dan Pembangunan Perekonomian Agraris

Yujiro Hayami, dan Toshihiko Kawagoe. The Agrarian Origins of Commerce and Industry: A Study of Peasant Marketing in Indonesia Kata Pengantar C. Peter Timmer, New York: St. Martin’s Press, 1993 202 + xv halaman.

Apakah perekonomian agraris (pedesaan) memiliki kapasitas untuk berkembang menjadi sebuah perekonomian moderen yang dinamis? Mengingat pelaku utama perekonomian agraris adalah petani tradisional (peasant), sedangkan mesin penggeraknya adalah usaha perdagangan dan industri, maka pertanyaan di atas akan lebih operasional apabila dijabarkan menjadi: “apakah petani tradisional tanggap terhadap kekuatan pasar dan mampu mengorganisasikan usaha perdagangan dan industri?”

Jawaban terhadap pertanyaan di atas sangatlah penting dan menarik bukan hanya bagi ilmuwan tetapi juga bagi para praktisi pembangunan negara-negara sedang berkembang di mana sektor pertanian tradisional masih cukup dominan. Ironisnya hingga kini belum ada kesepakatan yang bulat terhadap pertanyaan tersebut.

Ada dua aliran pemikiran yang saling bertentangan tentang hal itu, yaitu aliran pesimistik dan aliran optimistik.

Aliran pesimistik dipelopori oleh Boeken1 dengan tesis “dualisme sosial”-nya dan Geertz2 dengan tesis “involusi pertanian”-nya. Kedua tesis ini bermuara pada satu kesimpulan pokok yaitu bahwa perekonomian agraris tidak memiliki basis untuk berkembang menjadi sebuah perekonomian modern yang dinamis dalam tatanan sistem perekonomian pasar. Perekonomian agraris bersifat statis dan terperangkap dalam lingkaran setan kemiskinan (vicious poverty cycle).

Paling tidak ada tiga pesimisme kenapa perekonomian agraris bersifat demikian. Pertama ialah pesimisme produksi atau pertumbuhan. Para petani tradisional (penduduk pedesaan) tidak rasional dan tidak memiliki keterampilan wiraswasta yang merupakan syarat mutlak pelaku ekonomi pada sistem perekonomian pasar. Dengan ciri yang demikian, usaha ekonomi pada perekonomian agraris tidaklah efisien dan statis.

Kedua, pesimisme kesejahteraan (manfaat). Lembaga sosial, khususnya nilai-nilai sosial, di daerah pedesaan terutama diarahkan untuk menjamin keamanan kebutuhan hidup seluruh anggota masyarakat.3 Lembaga sosial yang moralistik tersebut tidak berkesesuaian dengan sistem perekonomian pasar yang mengandalkan mekanisme harga yang tak punya kandungan moral. Karena itu, para penganut aliran pesimistik beranggapan bahwa sistem perekonomian pasar tidak akan berhasil mendorong pembangunan yang dapat meningkatkan kesejahteraan para petani tradisional di pedesaan. Bahkan sebaliknya sistem perekonomian pasar akan menyengsarakan para petani khususnya dan penduduk desa pada umumnya (immiserizing market economy).

Ketiga, pesimisme pemerataan. Para petani/penduduk pedesaan yang dicirikan oleh keterampilan wiraswasta yang rendah, modal terbatas dan menghasilkan produk yang bersifat inferior, senantiasa berada pada posisi persaingan yang sangat lemah. Akibatnya mereka cenderung menjadi mangsa eksploitasi oleh para pemilik modal dan golongan masyarakat di luar sektor pertanian/di luar wilayah pedesaan. Introduksi teknologi bukan hanya tidak bermanfaat bagi peningkatan pendapatan petani/penduduk pedesaan malahan hanya akan memperlebar jurang perbedaan pendapatan baik di dalam perekonomian agraris tersebut maupun relatif dengan sektor perekonomian lainnya.

Berbeda dengan aliran pesimistik, penganut aliran optimistik berpendapat bahwa perekonomian agraris mempunyai potensi berkembang menjadi sebuah perekonomian moderen yang dinamis. Aliran optimistik ini didasarkan pada tesis “petani rasional” yang dipelopori oleh Schultz4 dan pendekatan politik ekonomi yang dikemukakan oleh Popkin.5 Penganut aliran optimistik ini berpendapat bahwa para petani tradisional dan penduduk pedesaan adalah rasional dan memiliki kemampuan wiraswasta yang tinggi. Karena itu masyarakat agraris memiliki kemampuan untuk memoderenkan diri dalam upaya menangkap kesempatan ekonomi yang ada.

Para penganut aliran optimistik juga menolak anggapan bahwa masyarakat agraris berorientasi untuk melindungi yang miskin (moral economy). Mereka berpendapat bahwa kelembagaan agraris cenderung dimanfaatkan oleh para elit untuk kepentingan sendiri, bukan untuk melindungi yang miskin, sehingga memperlebar jurang perbedaan pendapatan dan kekayaan. Dalam keadaan seperti itu, masuknya sistem perekonomian pasar akan berfungsi sebagai juru pembebas bagi masyarakat agraris pada umumnya. Dengan demikian, masuknya sistem perekonomian pasar dan modernisasi akan berguna untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat agraris dan sekaligus memperbaiki tingkat pemerataan pendapatan dan kekayaan.

Secara historis, aliran pemikiran pesimistik lebih dulu muncul daripada aliran optimistik. Aliran pesimistik diterima secara luas khususnya pada periode 1920-1960. Sedangkan aliran optimistik baru berkembang pada pertengahan tahun 1960-an. Namun demikian, hingga kini penganut aliran pesimistik tersebut masih cukup luas baik di kalangan ilmuwan maupun di kalangan birokrat dan politisi.

Tampaknya inilah yang mendorong Profesor Hayami dan Kawagoe untuk melakukan penelitiannya.


1 J. S. Boeke, Economics and Economic Policy of Dual Societies as Exemplified by Indonesia, New York: Institute of Pacific Relations, 1953.

2 C. Geertz, Agricultural Involution: The Process of Ecological Change in Indonesia, Berkeley and Los Angeles: University of California Press, 1970.

3 J. C. Scott, The Moral Economy of the Peasant, New York: Yale University Press, 1976.

4 T. W. Schultz, Transforming Traditional Agriculture, New York: Yale University Press, 1964.

5 S. L. Popkin, The Rational Peasant, Berkeley and Los Angeles: University of California Press, 1979.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan