Proses pergantian generasi dalam ABRI jelas merupakan sesuatu yang penting untuk diamati, mengingat posisi ABRI di dalam sistem politik kita. Antara generasi tua ABRI-yaitu generasi 45-dengan generasi baru ABRI-yaitu lulusan AMN dan AKA-BRI-terdapat perbedaan dalam latarbelakang dan pengalaman, sehingga kemungkinan sikap atau persepsinya terhadap masalah politik atau kenegaraan pun akan berbeda. Sejauh mana perbedaan ini membawa pengaruh dalam sistem politik kita? Menurut Harold Crouch, perbedaan-perbedaan inilah yang menjadikan proses pergantian generasi militer itu sesuatu masalah penting di Indonesia.
1
Sejarah militer Indonesia adalah lain daripada yang lain. Berbeda dengan pengalaman kebanyakan negara Dunia Ketiga yang tentaranya didirikan oleh penjajah dan kemudian diambil-alih oleh pemerintah nasionalis sesudah negara itu mendapat merdeka, tentara Indonesia dilahirkan pada zaman revolusi untuk melawan penjajah itu. Latarbelakang yang agak khas ini sudah tentu mempengaruhi persepsi, sikap dan tingkahlaku tentara Indonesia pada zaman yang berikut sehingga sejarah sesudah zaman revolusi itu juga agak khas. Dalam hal ini masalah pergantian generasi menjadi masalah yang lebih besar bagi tentara Indonesia dibandingkan dengan tentara di negara-negara lain karena generasi baru di Indonesia memiliki latarbelakang sosial, pendidikan dan pengalaman yang sangat berbeda dengan generasi lama.
Di kebanyakan negara masalah pergantian generasi tidak menjadi masalah. Perubahan dari sebuah generasi ke generasi berikut tidak membawa akibat yang besar. Perwira-perwira yang mendapat pendidikan dan latihan militernya pada zaman penjajahan dahulu diganti oleh perwira-perwira yang mendapat pendidikan militernya sesudah kemerdekaan tetapi kedua-dua kelompok itu mendapat pendidikan yang lebih kurang sama dengan etos yang sama di akademi militer yang sama. Tradisi profesionalisme yang dibina oleh penjajah tetap meresapi jiwa para perwira yang mendapat latihan militernya sesudah kemerdekaan. Seringkali perwira-perwira muda dan menengah diantarkan ke sekolah-sekolah staf dan sekolah-sekolah lain di negara bekas jajahan penjajah untuk mendapat pendidikan tambahan yang khas dalam berbagai-bagai bidang mengikuti spesialisasinya masing-masing. Pengalaman ini juga memperkuat tradisi lama di kalangan perwira-perwira itu.
Faktor utama yang menyebabkan perubahan dalam orientasi para perwira militer di negara-negara lain bukanlah perbedaan antara generasi berdasarkan kepada latar-belakang sosial, pendidikan dan sebagainya tetapi faktor luar, yaitu pengalaman sejarah negara itu. Baru sesudah negara itu mendapat kemerdekaan tentara meneruskan tradisi militer penjajah di mana tentara dianggap sebagai sebuah angkatan profesional yang memiliki fungsi terbatas pada bidang keamanan dan pertahanan. Tetapi pemerintah sipil seringkali menghadapi krisis politik demi krisis politik di luar kemampuan untuk mengatasinya sehingga tentara merasa diri terpaksa untuk campurtangan dalam bidang politik
dan pemerintah, konon untuk menyelamatkan negara itu. Walaupun perwira-perwira yang berorientasi profesional mula-mula merasa enggan untuk mengambil-alih pemerintah itu, namun mereka pada umumnya dengan cepat dapat menyesuaikan diri dengan tugas-tugas dan tanggungjawabnya yang baru sehingga mereka kemudian enggan melepaskan kekuasaan yang sudah mereka nikmati. Dengan demikian di kebanyakan negara Dunia Ketiga perubahan dalam sikap dan orientasi para perwira tentara memang telah terjadi. Mula-mula tentara merupakan sebuah angkatan profesional yang diwariskan oleh penjajah; kemudian tentara itu telah berkecimpung dalam politik. Tetapi perubahan itu tidak disebabkan oleh proses pergantian generasi di mana sebuah generasi yang mempunyai latar-belakang tertentu diganti oleh generasi baru yang memiliki latar-belakang lain, tetapi terjadi sebagai reaksi terhadap pergolakan-pergolakan politik yang seolah-olah memaksa tentara untuk melibatkan diri secara langsung dalam politik.