Pendahuluan
Duapuluh tujuh tahun yang lalu, tepatnya 10 Februari 1952, seorang misionaris Belanda, Pater H. Smits OFM, tiba di daerah suku Mapia yaitu di Modio. Kedatangannya adalah atas permintaan dan desakan kepala suku, Auki namanya, untuk menetap di daerah suku Mapia sebagai pastor bagi mereka. Pada mulanya desakan kepala suku ini tidak dipenuhi sebab pada zaman dulu semua suku di pedalaman Irian Jaya diangggap sebagai liar, suka perang, kanibal, dan lain-lain, meskipun kebenarannya tak dapat diterapkan untuk semua suku yang ada.
Dengan kedatangan Pater Smits OFM, tembok isolasi suku telah dibuka. Maka menyusullah para pedagang, kelompok-kelompok ekspedisi, akhli antropologi, pegawai-pegawai pemerintah, berdatangan dengan maksud dan tujuannya masing-masing. Juga sekolah, poliklinik, proyek pertanian atau kehewanan, gereja, toko atau warung, landasan pesawat terbang mulai dibuka. Dengan demikian bertemulah dua zaman pada satu waktu, bertemulah manusia dari dua zaman, bertemu lah dua kebudayaan yang sangat berbeda satu sama lain, yaitu zaman batu dan zaman atom. Keduanya mempunyai ciri-cirinya masing-masing. Selanjutnya mulailah kontak, aksi dan interaksi. Akibatnya terjadilah entah inkulturasi entah akulturasi. Pengaruh baru mempengaruhi situasi hidup, kebiasaan, adat-istiadat lama dan manusia yang mendukungnya. Terjadilah perubahan-perubahan di bidang material, sosial-ekonomis, religius, pandangan hidup, dan sebagainya dari masyarakat lama.
Terbagi pulalah suku Mapia dalam dua golongan, yakni golongan tua yang masih setia memegang teguh adat-istiadat lama, dan golongan/angkatan muda yang lebih progresif, yang ingin ikut arus dan perkembangan zaman sesuai dengan pengaruh luar. Tetapi pembagian ini tidak mutlak. Sebab ada golongan tua yang lebih dinamis jiwa dan pikirannya, sebaliknya ada juga golongan/angkatan muda yang masih statis.
Zaman sekarang ini dapat dikatakan sebagai zaman perubahan, atau lebih tepat zaman peralihan. Manusianya dapat disebut sebagai marginal-man, manusia di persimpangan jalan, manusia peralihan, manusia yang bingung antara mempertahankan adat istiadat lama karena memberi kepastian hidup dan ingin mengikuti pengaruh baru namun belum memiliki pegangan yang jelas untuk itu.
Untuk menjelaskannya, beberapa hal akan dibahas kemudian; paling tidak dengan menyebut beberapa perubahan dalam adat atau dengan memperbandingkan antara keduanya.
Masyarakat suku Mapia dalam masa peralihan
Tulisan berikut ini mencoba melihat situasi masyarakat lama—paling tidak ciri-cirinya—dan perubahan yang dialaminya akibat pengaruh luar. Keadaan angkatan muda umumnya sekarang ini menunjukkan bahwa mereka berada dalam suatu situasi peralihan. Penggambaran situasi ini perlu diberikan lebih dahulu supaya menjadi jelas bagi kita dalam situasi mana angkatan muda itu dibesarkan dan untuk apa mereka dibesarkan dan dididik. Masalahnya amat kompleks sehingga tidak dapat digambarkan secara mendetail, namun beberapa ciri dan masalah yang agak menonjol akan dibahas di bawah ini.
* Daerah Mapia dan suku Mapia yang diceritakan dalam tulisan ini terletak di daerah pedalaman Irian Jaya, kurang lebih 500 (lima ratus) kilometer dari Nabire, ibukota Kabupaten Paniai. Jumlah penduduk suku Mapia, menurut statistik Pemilu 1971, adalah 12.000 jiwa. Sebenarnya suku Mapia sendiri merupakan bagian/anak suku Ekagi, namun logat bahasa dan mentalitasnya agak berbeda dengan orang Ekagi.