Prisma

Kaum Pinggiran

KEMISKINAN dan pengangguran senantiasa tampil menonjol sebagai wajah kusam Dunia Ketiga. Fenomena ini makin tampak jelas apabila kita menatap kontras situasi dan kondisi daerah perkotaan. Pembangunan — obat mujarab untuk membasmi kemiskinan dan pengangguran — yang direkayasa untuk memperbaiki dan meningkatkan derajat kesejahteraan rakyat, selain telah membawa kenikmatan tertentu, ternyata juga membelah masyarakat menjadi dua bagian: kaya dan miskin; formal dan informal; tradisional dan moderen; elite dan grassroot. Belahan ini serta-merta tercipta — entah sengaja atau kebetulan — sehingga masalahnya menjadi kusut; manakah ujung pangkal dan manakah pula ujung akhirnya.

Situasi dan kondisi yang “pecah” ini tampak menghiasi wajah Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia. Tatkala pembesar negara dan pemodal besar meresmikan gedung bertingkat mewah, pada saat yang sama, pemukiman kumuh meluas. Ketika di tingkat atas sedang berlangsung transfer manajer profesional senilai Rp 1 milyar, ketika itu pula pekerja-pekerja harian sedang melakukan aksi mogok menuntut kenaikan upah lembur Rp 100 per jam. Pada saat seorang konglomerat sedang merayakan pesta karena baru saja memperoleh kredit bank sebesar Rp 100 milyar, ketika itu pula seorang pedagang asongan bermodal sendiri sebesar Rp 10 ribu sedang mengiba kesedihan karena ditangkap oleh Operasi Ketertiban Umum. Deretan situasi dan kondisi kontras di perkotaan ini bisa diperpanjang lagi ke bidang kesehatan, pendidikan, hiburan dan bidang-bidang lainnya.

Masalah kemiskinan di perkotaan memang bagaikan lingkaran setan. Ia tidak berdiri sendiri dan karena itu tidak bisa dilepaskan dari kemiskinan pedesaan pada khususnya dan kemiskinan nasional pada umumnya. Manakah ujung pangkal dan ujung akhirnya? Ia tampak jelas apabila “benang” itu dipotong dan direntangkan sehingga titik awal dan titik akhir dapat dikenali. Dari titik awal itulah kita berangkat menyelesaikan masalahnya, selanjutnya instrumen penganggulangannya mengarah ke ujung akhir tujuan.

Pengangguran di perkotaan pada galibnya tidak lepas dari pengangguran di pedesaan. Sedangkan pengangguran di pedesaan disebabkan oleh tidak terbuka yang kesempatan kerja di sana sebab investasi lebih banyak berada di daerah perkotaan. Besarnya penyaluran kredit usaha kecil untuk masyarakat pedesaan tidak seimbang dengan besarnya penyaluran kredit bagi usaha-usaha berskala besar di perkotaan. Kredit usaha sebagai instrumen pemerataan tidak kena sasaran, bahkan sebaliknya menjadi bumerang yang memperlebar kesenjangan sosial, antara masyarakat kota dan masyarakat desa; juga gap di antara kelompok-kelompok masyarakat, baik di desa maupun di kota.

Sektor informal di kota seringkali diperlukan sebagai “sampah” sehingga dipandang perlu untuk dibersihkan; atau pun “sumber” penyakit masyarakat, yang karena itu, pantas untuk dibasmi. Namun orang lupa, bahwa sektor informal selama ini sesungguhnya adalah penampung yang menyelamatkan kehidupan jutaan kaum miskin di kota. Mereka juga memberikan kontribusi bagi pendapatan daerah. Untuk sementara, kaum pinggiran yang berada di luar sentuhan kebijaksanaan, masih berfungsi sebagai katup pengaman. Namun bukan tidak mungkin “jerami” sosial ini akan terbakar dan timbul gejolak masyarakat, jika para penentu kebijaksanaan keliru memperlakukannya. Banyak kelompok masyarakat disingkirkan dan tersingkir dari perputaran pembangunan nasional. Risiko dan akibatnya bukan tidak mungkin akan berupa biaya sosial-politik yang mahal. Siapa yang harus menebus dan membayarnya?


Pemimpin Umum: Arsenal Harahap; Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad; Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, Ismid Hadad, M. Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz, Paulus Widiyanto; Redaktor Pelaksana: Paulus Widiyanto; Staf Redaksi: Nur Iman Subono; Pemimpin Perusahaan: Maruto MD; Wakil Pemimpin Perusahaan: Arys Sutarman; Sirkulasi: M. Sholeh, Sukandar; Iklan: Arys Sutarman; Tata usaha: Nina Herliana, Sunarwanto; Produksi: Awan Dewangga, Suradi Suprapto, Yahya Sukaria.

Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301 – 6269. SURP: No.072/SK/MENPEN/SIUP/P/D.1/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420, Telepon: 597211. Kotak Pos 6275/11062, Jakarta 11062. Bank: BUKOPIN, Cabang S. Parman, Jakarta, Nomor Rekening 004.0010.5; Pencetak: PT. Temprint.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan