Prisma

Kaum Tani dan Program Pertanian Korporasi di Filipina

Pertanian sejak dulu merupakan sektor ekonomi yang utama di Filipina; sumbangan rata-rata sektor ini per tahun pada GNP Filipina adalah sebanyak 29 persen. Faktor pertanian memanfaatkan lebih dari separuh jumlah tenaga buruh negara ini dan merupakan sumber pencarian utama bagi 63 persen keluarga di Filipina.

Walaupun kedudukannya begitu penting bagi ekonomi nasional, sektor pertanian di Filipina sangat terbelakang. Di samping adanya masalah yang meningkat tentang tercerai-berainya sawah pertanian, sewa yang harus dibayar oleh petani-penggarap kepada pemilik tanah adalah yang tertinggi di Asia. Keterbelakangan sebagian terjelma dalam cara berproduksi yang feodal, yang jelas tampak di bidang pertanian beras dan jagung; bidang ini meliputi 66 persen dari jumlah tanah yang dipakai untuk menanam hasil bumi. Sistem pemilikan tanah yang feodal selamanya dihubungkan dengan produktivitas rendah, teknologi yang kuno dan pendapatan yang rendah bagi petani. Kemiskinan di daerah-daerah pertanian sangat merata; dan pendapatan rata-rata tiap keluarga adalah kurang dari 500 dollar AS setahun.

Telah seringkali dinyatakan bahwa perkembangan sektor pertanian sebenarnya hanyalah menguntungkan petani-petani kaya yang jumlahnya tidak lebih dari 10 persen jumlah penduduk pedesaan. Metode-metode pertanian moderen adalah di luar jangkauan petani-petani kecil. Keluarga petani umumnya berpenghasilan 15 dollar AS setahun, sementara ongkos minimum dari sebuah mesin bajak bikinan dalam negeri bisa mencapai harga 95 dollar AS. Di samping itu, pinjaman uang yang disediakan oleh lembaga-lembaga seperti Bank Dunia pada umumnya digunakan untuk membeli alat-alat berat pertanian.

Kenyataannya, sebagian besar dari pertumbuhan sektor pertanian berasal dari sektor tanaman ekspor. Tingkat kenaikan ekspor hasil bumi seperti kelapa, gula, nenas, pisang dan tembakau jauh melebihi tingkat kenaikan sektor bahan pangan pokok. Keadaan ini begitu ironis, sebab kebutuhan pangan Filipina sendiri masih belum mencukupi, seperti yang dilaporkan oleh Asian Development Bank baru-baru ini; laporan tersebut menyatakan bahwa konsumsi kalori per hari per orang di Filipina adalah yang terendah di seluruh kawasan Asia.

Sektor tanaman ekspor mencerminkan sisi kapitalis dari pertanian Filipina; kemajuannya didorong oleh perseroan-perseroan yang bergerak di bidang agro-bisnis yang secara pesat mendesak masuk ke wilayah yang dulunya ditanami dengan bahan pangan pokok. Bisnis ini mungkin akan memberi jawaban atas masalah keterbelakangan pedesaan yakni, kalau pembangunan hanya dipandang sebagai peningkatan angka-angka produksi serta pertambahan pertambahan pemakaian teknik pertanian moderen.

Akan tetapi, bila pembangunan hendak dilihat sebagai suatu pembangunan manusia-kenaikan, tingkat hidup dan pemenuhan kebutuhan mereka, maka problem dasarnya terdiri dari pembagian pendapatan dan tanah. Angka-angka pemerintah terakhir menunjukkan bahwa dari 4,7 juta keluarga pedesaan, 90 persen keluarga termiskin hanya memperoleh 66 persen dari seluruh pendapatan keluarga, sementara 10 persen keluarga terkaya memperoleh 34 persen dari seluruhnya. Di bawah sistem pertanian feodal maupun kapitalis, pemilikan tanah terpusat di tangan beberapa gelintir petani kaya. Kenyataannya menunjukkan bahwa banyaknya petani yang tidak memiliki tanah merupakan sebab utama dari kerusuhan petani di masa yang lalu.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan