Sunan Gunung Jati mengusir armada Portugis pada tanggal 22 Juni 1527. Dan bandar di mana ditanamkan bendera kemenangan diberinya nama Jayakarta. Beberapa puluh tahun berselang Cornelis de Houtman sang pelaut Belanda bertempur melawan Inggris demi suatu wilayah perdagangan, bertempur melawan Pangeran Jayakarta dan menundukkan Kerajaan Banten dengan alasan serupa. Dan tentang peristiwa itu sejarah melaporkan: di tengah pertempuran yang berkecamuk, menembusi malam-malam tirakatan di mana doa berbaur dengan pesta mesum dalam anggur dan wanita, saudagar-saudagar Belanda bersumpah untuk mempertahankan bandar itu selama Tuhan masih berkenan. Mereka menang. Namun mereka katakan bahwa benteng pertahanannya belum punya nama. Dan mereka berikan dia nama Batavia karena begitulah nama negeri Hollandia di zaman baheula. Dan Batavia dibangun menurut pola lama Hollandia. Perang laut Jawa akhirnya menghabiskan riwayat Belanda serta bersama mereka sirna pula nama Batavia. Dan sekali lagi Jakarta menggantikannya. Jakarta pun berawal dari pertarungan dan pertentangan.
Jakarta tahun 1977. Banjir yang setiap tahun dengan “setia” melanda Jakarta, kali ini menyapu sebagian kota tanpa ampun. Konon, inilah banjir terbesar sejak tahun 1892. Kerugian ditaksir bermilyar rupiah. Ribuan penduduk Jakarta harus mengungsi dari tempat pemukimannya dan tidur berselimutkan udara lembab dan dingin karena uap-uap yang menyeruak dari kolong-kolong ranjang yang tergenang air. Namun aneh, karena ada yang mengatakan Jakarta berpesta air. Tetapi mungkin juga benar ucapan itu. Setelah hujan berhenti turun, banjir jadi tontonan orang dari gedung-gedung yang menjulang tinggi dan dari pesawat helikopter. Hampir serupa Kaisar Nero menonton kota Roma dalam amukan api yang disulut dengan tangannya sendiri. Dan bencana menjadi pesta.
