Prisma

Keadaban dan Bahaya Pluralisme

Buku ini merekam pergulatan sejumlah pemikir liberal dan membahas pandangan mereka dalam menghadapi perilaku kelompok, asosiasi atau organisasi — sering diberi label sebagai masyarakat sipil (civil society) atau pluralisme— yang bersifat memecah- belah dan merusak, termasuk melalui jalan kekerasan.

Tradisi liberal yang tidak pernah bisa dikatakan tunggal umumnya menerima pengertian bahwa munculnya kelompok, group, asosiasi atau organisasi dalam sebuah negara atau masyarakat bersifat tak terhindarkan, dan terwujud dalam beragam bentuk. Namun, terdapat perbedaan cara pandang cukup kontras antara pemikir liberal klasik—Thomas Hobbes, John Locke, David Hume, Adam Smith, James Madison, dan sebagainya—serta ahli teori yang lebih kontemporer— Fergusen, Burke, John Stuart Mill, dan Alexis de Tocqueville—berkenaan dengan hakikat pluralisme atau masyarakat sipil itu.

Perbedaannya adalah jika para pemikir liberal klasik melihat fenomena kelompok atau groups, perkumpulan atau organisasi dengan sudut pandang “negatif”—yakni, fenomena yang membahayakan atau ancaman yang memecahbelah tatanan sosial (“the perils of pluralism”), pemikir liberal kontemporer justru melihatnya secara lebih “positif”—yakni, sebagai harapan penyembuh atau sebagai obat mujarab untuk memperbaiki kelemahan institusi-institusi demokrasi liberal.

Gagasan dasar penulis buku ini adalah ajakan untuk mempertimbangkan kembali sikap para pemikir liberal klasik, yang hidup pada abad ke-17 dan abad ke-18, dalam berhadapan dengan asosiasi atau kelompok sipil, karena hanya dengan cara ini kita dapat menyelami wawasan yang lebih kaya akan hakikat kelompok atau organisasi. Sumbangan para pemikir liberal klasik itu memang penting, misalnya, dalam menunjukkan apa yang berharga dari kelompok, perkumpulan, atau organisasi. Ada sejumlah pertanyaan penting di sini, apakah civil society menyumbang bentuk dan memperkuat standar moral keadaban (the virtue of civility). Bagaimana standar moral itu dapat diwujudkan? Bagaimana civil society bisa dibedakan dengan lawan moral mereka, seperti geng kejahatan, sektarianisme, faksi serta berbagai bentuk gairah dan nafsu yang berada di luar tapal batas.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan