Kelahiran manusia sering disambut dengan kegembiraan, tetapi kedatangan agama jarang. Pada mula kedatangan agama, masyarakat justeru terkena demam, bergolak dan menjerit — karena masyarakat itu sendiri yang sesungguhnya harus dilahirkan kembali.
Masa purba agama sering dilukiskan sebagai titik akhir kegelapan, ketika masyarakat diperhamba oleh daulat yang memusatkan semua kuasa di tangannya sendiri dan membuat orang tergencet dan merasa terasing dari susunan yang membelenggunya. Karena itu pengikut awal dari para nabi sering terdiri dari mereka yang terlindas ini — yang dalam keadaan kehabisan daya, makna dan tujuan hidup — serta-merta menyambut warta pembebasannya. Mereka itulah yang berada di belakang Musa, Yesus Kristus dan Muhammad. Kedatangan agama, dengan demikian, merupakan sebuah antitesa.
Dalam Islam, proses dialektik ini mungkin bisa disimpulkan dari mafhum sebuah hadis yang mengatakan bahwa Islam datang sebagai sesuatu yang asing dan akan kembali sebagai sesuatu yang asing pula. Barangkali sudah jadi tabiat masyarakat yang menyejarah, tiap kali kenyataan pecah sama sekali pertautannya dengan bingkai keharusan moral, ketika kelaliman sudah dirasakan terlampau menekan, ia mendambakan datangnya sang pembebas. Tak selalu seorang nabi; bisa saja seorang juru tafsir baru, ratu adil, atau teoritikus — asal kedatangannya membawa kosmologi baru yang menjadi dasar dari etos dan rasa keterlibatan yang baru. Kebangkitan demi kebangkitan berlangsung dengan proses ini.
Di dasar rohani kebangkitan adalah keprihatinan sosial, perasaan tersekap dalam ruang budaya yang sesak oleh dosa sosial, dan kengerian terlempar ke luar sejarah yang mulai tampak ujungnya. Dalam suasana semacam ini, warta tentang ruang yang baru dan masa yang baru saja, seringkali belum cukup. Dalam metafisika baru itu harus tercetus keharusan bertindak dan panggilan keterlibatan total dengan pertaruhan habis-habisan.
Hasilnya mungkin sebuah ledakan yang menggoncangkan seluruh tatanan yang ada dan pembekuan zamannya secara mendadak. Bisa juga berupa perjalanan hijrah yang meletihkan, atau umat yang terhimpit itu memilih menghancurkan dirinya sendiri. Acapkali lagi kebangkitan itu berjalan tertatih-tatih dan membawa perubahan secara berangsur.
Namun apa pun hasilnya, kebangkitan hanya mungkin bila pandangan dunia, etos sosial dan keharusan bertindak, berpadu satu. Sebab, bila mereka berpisah, agama akan berada dalam tidur panjang yang lelap; dan dalam ruang sosial yang pengap, mungkin justeru menjadi beban yang menekan.Aswab Mahasin