Dunia Islam masih bergejolak terus. Timur Tengah adalah kawasan di mana konflik senantiasa berjalan dan tak juga kunjung reda. Untuk Afrika dikatakan orang bahwa Islam membuat kemajuan banyak. Kebangkitan diam-diam kaum Muslim juga tampak di Asia Sentral. Kekuatan-kekuatan besar di dunia punya kepentingan dan memberikan perhatian untuk itu. H. Rosihan Anwar menguraikan semuanya ini termasuk tentang dunia Islam di Indonesia. Dia menyimpulkan, betapapun banyak kelemahan dan kekurangan yang tampak, di bawah permukaan yang terlihat suram itu, di dalam arus bawah, terdapat suatu kesungguhan usaha mencari identitas Islam dan kekuatan baru.
Banyak orang berpendapat, abad XV Hijriah akan menjadi abad kebangkitan umat serta dunia Islam. Tetapi tidak semua orang setuju dengan istilah “kebangkitan Islam” itu. H. EZ Muttaqien, Rektor Universitas Islam Bandung dan Ketua Majelis Ulama Jawa Barat mengatakan, “Tentang istilah ‘kebangkitan Islam’ itu sendiri, saya kurang setuju. Karena istilah itu rasanya menimbulkan citra, seolah-olah umat Islam akan melakukan sesuatu yang dahsyat dan menakutkan. Saya lebih cocok menilai abad XV Hijriah ini sebagai abad yang memberi tantangan kepada umat Islam agar memberi karya positif terhadap perdamaian dunia”1. Prof. Osman Raliby dalam sebuah diskusi panel di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, tanggal 14 Maret 1980 juga menyatakan tidak setuju dengan istilah “kebangkitan Islam”. Sebabnya ialah karena pada hematnya Islam senantiasa segar sedangkan yang buruk ialah umatnya.
Ada aspek lain yang melekat pada mempersoalkan kebangkitan Islam, khususnya di Indonesia, yaitu adanya sikap optimis serta sikap pesimis terhadap kebangkitan Islam. Dr. Sulastomo pernah menulis, “Menteri Agama Alamsjah baru-baru ini mengatakan bahwa keadaan dan status umat Islam di Indonesia tidak saja merupakan pusat harapan umat Islam di ASEAN, tetapi juga harapan umat Islam di dunia”2. Gambaran optimis lain juga diberikan oleh Dr. Soedjatmoko yang melihat masalah ini sebagai semata-mata proses sejarah. Tidak dapat dihindarkan tumbuhnya kebangkitan Islam di masa-masa depan untuk kemudian hidup berdampingan dengan paham/kebudayaan lain yang telah ada. Saya sendiri lewat beberapa tulisan3 juga ikut menyertai optimisme ini. Prof. Wilfred Cantwell Smith pernah meramalkan bahwa kebangkitan Islam justru akan terjadi bukan di negara-negara Arab, melainkan lebih ke timur yaitu di Pakistan atau di Indonesia4. Sebaliknya, sering kita juga mendengar bahwa di antara pemimpin kita sendiri ada nada tidak puas dengan keadaan kita. Dalam artikel yang dimuat majalah Asiaweek saya mengutip khotbah Idul Fitri dari khotib di Taman Ismail Marzuki, Jakarta yang menggambarkan sikap tidak optimis. Kata khotib ini, “Lihatlah koran-koran yang baik/besar, bukanlah koran-koran Islam. Sekolah-sekolah dan rumah sakit yang moderen bukanlah sekolah dan rumah sakit Islam. Belum lagi hambatan-hambatan politis dan ekonomi, kata pembicara tadi. Bagaimana kita dapat menyimpulkan suatu kebangkitan Islam?”5.
1 Pikiran Rakyat, Bandung, 25 November 1979.
2 Panji Masyarakat, 15 November 1979
3 Lihat: H. Rosihan Anwar dalam Asiaweek, Hongkong, 25 September 1979; dan harian Kompas, 15 Februari 1979.
4 Wilfred Cantwell Smith, Islam dalam Sejarah Modern, Princeton University Press, 1957.
5 Asiaweek, op. cit..