Prisma

Kebebasan Pers, Kekecewaan Masyarakat dan Keperkasaan Negara

(Studi Sejarah Pers Awal Orde Baru, 1966-1972)*

Posisi antara negara dan masyarakat serta “keunggulan” masing-masing dapat dipakai sebagai ukuran melihat sejauh mana jalannya proses demokratisasi. Tulisan ini menempatkan dua buah kasus yang menghangat sejak masa awal kekuasaan pemerintah sekarang sampai awal tahun 1970-an yang merupakan indikator penting pergulatan antara negara dan masyarakat. Masyarakat, yang diwakili pers dan mahasiswa, kerapkali melancarkan kritik dan protes. Negara, di sisi lain, selalu bersikukuh namun pada titik tertentu mampu mengakomodasikan kritik serta protes masyarakat. Perubahan memang terjadi namun bersifat artifisial.

Kebebasan pers yang “ideal” dan menarik pernah terjadi, pada periode awal kebangkitan orde baru sampai peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari) 1974.1 Pers Indonesia ketika itu amat kritis terhadap kekuasaan negara dan berani berbeda pendapat dengan penguasa negara. Beberapa koran, seperti Indonesia Raya dan Nusantara, bahkan mengemukakan kritik tajam tanpa tedeng aling-aling terhadap sejumlah oknum pejabat tinggi negara yang diduga melakukan korupsi atau menyelewengkan uang negara.

Namun, hasil studi ini memperlihatkan, kebebasan pers waktu itu ternyata tidak berhasil mendorong perubahan politik menuju suatu tatanan masyarakat yang demokratis, tetapi justeru mendorong resistensi dan represi negara. Penelitian ini akan memperlihatkan beberapa hal.


* Tulisan ini diambil dari salah satu bab skripsi penulis. Dalam mengerjakan skripsi, penulis dibimbing oleh Ashadi Siregar.

1 Beberapa wartawan senior, seperti Mochtar Lubis, “Etos Pers Indonesia,” dalam Prisma, no. 11, 1978; Rosihan Anwar, Menulis dalam Air, Sebuah Otobiografi (Jakarta: Sinar Harapan, 1983); dan Suardi Tasrif, “Masalah Kebebasan Pers di Indonesia” dalam T. Atmadi, (ed.) Bunga Rampai, Catatan Pertumbuhan dan Perkembangan Sistem Pers Indonesia (Jakarta: Pantja Simpati, 1985) dan lain-lain sepakat dalam hal ini. Lihat juga disertasi Daniel Dhakidae, “The State, The Rise of Capital and The Fall of Political Journalism: Political Economy of Indonesian News Industry,” disertasi Ph.D, Cornell University, Ithaca, New York, 1991; Tjipta Lesmana, 20 Tahun Kompas, Profil Pers Indonesia Dewasa Ini (Jakarta: Erwin-Rika Press, 1985).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan