Berbicara tentang keolahragaan di Indonesia pada hakekatnya adalah berbicara mengenai usaha pembinaan manusia Indonesia. Dengan perkataan lain, usaha pembinaan keolahragaan tidak dapat dipisahkan dari usaha-usaha pendidikan nasional dan pembudayaan bangsa Indonesia. Kebijaksanaan keolahragaan di Indonesia merupakan bagian integral dari kebijaksanaan pendidikan dan kebudayaan. Ini berarti, tujuan pembinaan keolahragaan tidak terpisahkan dari tujuan pendidikan.
Pendidikan adalah usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengubah tingkahlaku manusia ke arah yang diinginkan. Yang diinginkan di Indonesia ini adalah manusia seutuhnya, manusia Pancasila, manusia pembangunan. Tingkahlaku setiap warganegara Indonesia perlu diusahakan melalui program-program pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah, agar sesuai dengan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor II/MPR/1978). Selanjutnya, manusia-manusia di Indonesia-terutama orang-orang dewasa-wajib mengambil bagian aktif dalam program-program pembaharuan dan pembangunan yang dijalankan dewasa ini di berbagai bidang kehidupan dalam rangka membina negara dan bangsa Indonesia yang berkebudayaan Pancasila.
Dalam rangka pemikiran inilah perlu dilihat peranan yang akan dimainkan oleh bidang olahraga dan pemikiran seperti ini pulalah yang akan memberikan peranan yang menentukan bagi bidang keolahragaan. Di dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (TAP MPR Nomor IV/MPR/1978, hal. 114) sudah ditegaskan, bahwa “Pendidikan dan Kegiatan olahraga ditingkatkan dan disebar-luaskan sebagai cara pembinaan kesehatan jasmani dan rohani bagi setiap orang dalam rangka pembinaan bangsa”.
Manusia seutuhnya adalah kesatuan psiko-fisik, kesatuan jiwaraga, oleh karena itu keolahragaan bukan berarti mengolah raga saja, akan tetapi mengolah manusia seutuhnya itu. Memang manusia seutuhnya itu didekati dari sudut kemungkinan-kemungkinan jasmaniah akan tetapi “jasmaniah” yang bersatu padu dengan mental-spirituil. Dengan perkataan lain, kita dapat-untuk tujuan-tujuan teoritis!-membedakan “badan, jiwa dan roh” namun dalam kenyataannya manusia seutuhnya tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itulah, maka keolahragaan bukan hanya mengenai pengetahuan keterampilan dan teknik, akan tetapi juga sikap mental. Latihan-latihan keolahragaan bukan hanya dimaksudkan untuk menyampaikan informasi tentang aspek-aspek cabang olahraga tertentu beserta persyaratan-persyaratan permainannya, juga bukan hanya penguasaan keterampilan dan teknik olahraga tertentu itu, akan tetapi penting sekali ditanam, dipupuk dan dikembangkan sikap mental kejujuran, keberanian, sportivitas dan sebagainya.
Olahraga memainkan peranan yang amat penting dalam pembinaan manusia seutuhnya, bukan hanya karena olahraga secara langsung membantu perkembangan manusia seutuhnya, tetapi juga karena olahraga dapat digunakan sebagai umpan untuk pembaharuan bidang kehidupan lain, seperti gizi, kesehatan, penghijauan, dan sebagainya.