Prisma

Kebijaksanaan Non-Intervensi

Apakah Tepat untuk Kredit Usaha Kecil?

SEJAK akhir tahun 1970an, terjadi perubahan pemikiran tentang pola kebijaksanaan terhadap kredit usaha kecil. Perubahan pemikiran tersebut terutama dipicu oleh penelitian perkreditan di sektor pertanian. Penelitian yang dilakukan oleh C. Gonzales Vega, Anthony Bottomley, U Tun Wai, Von Pischke dan Dale W. Adams, ternyata menunjukkan bahwa ada dikotomi tingkat bunga, prosedur, persyaratan dan kelompok peminjam kredit yang diberikan oleh lembaga keuangan formal versus lembaga keuangan informal pada tingkat pedesaan.

Walaupun tingkat bunga pinjaman lembaga keuangan formal jauh lebih rendah daripada tingkat bunga lembaga keuangan informal, tetapi persyaratan pemberian kredit jauh lebih ruwet dan birokratis. Di samping itu, akses terhadap kredit formal sangat terbatas pada kelompok masyarakat lapisan atas di tingkat pedesaan, dan sangat erat kaitannya dengan distribusi pemilikan tanah. Sementara itu, kredit dari sumber-sumber informal memiliki tingkat bunga yang lebih tinggi tetapi prosedur dan persyaratannya sangat mudah dan fleksibel.

Tingkat bunga murah yang ditawarkan oleh lembaga keuangan formal terutama disebabkan oleh adanya intervensi pemerintah dalam penentuan tingkat bunga. Banyak pemerintah di negara-negara berkembang memberikan subsidi dan menjalankan kebijaksanaan tingkat bunga rendah untuk kredit di sektor pertanian dan usaha skala kecil. Tetapi, berbagai studi di atas, ternyata menunjukkan bahwa tingkat bunga yang rendah, tersebut memiliki dampak yang regresif terhadap distribusi pendapatan – artinya kebijaksanaan bunga yang disubsidi hanya menguntungkan kelompok ekonomi yang jauh lebih kuat, dan yang memiliki hubungan khusus dengan pejabat perbankan. Selain itu, kebijaksanaan bunga yang rendah juga akan mendorong kegiatan ekonomi yang tidak produktif dan tidak efisien karena biaya modal sangat rendah.

Pada tingkat makro, studi-studi yang dipelopori oleh Ronald McKinnon dan Edward Shaw, juga menunjukkan bahwa kebijaksanaan tingkat bunga rendah akan mengurangi insentif untuk menabung, dan mendorong kegiatan investasi yang tidak efisien, sehingga akhirnya akan mengurangi tingkat akumulasi modal. Di sisi lain, karena biaya modal rendah padahal banyak negara berkembang kelebihan tenaga kerja, kebijaksanaan bunga rendah tersebut akan meningkatkan Ratio Modal terhadap Output secara agregat (ICOR). Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi tidak mendorong penyerapan tenaga kerja karena pertumbuhan ekonomi tersebut sangat capital intensive.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan