Prisma

Kegagalan Teori Rente Ekonomi Hutan: Sebuah Tanggapan

SEBELUM menanggapi tulisannya, “Kegagalan Teori Rente Ekonomi Hutan”, dalam Majalah Prisma No. 2, Bulan Februari 1995, perkenankanlah saya mengucapkan Selamat kepada penulisnya; Hariyadi Kartohardjo, atas tulisannya. Karena kenyataannya, tidak banyak Rimbawan sebagaimana Saudara Hariyadi yang “berani” mencoba menganalisis tentang pemanfaatan hutan alam melalui sistem HPH dari sisi ekonomi kelembagaan. Ini barangkali karena sistem kelembagaan HPH yang ada telah dianggap “mapan” oleh beberapa kalangan dalam pengertian bahwa sistemnya seolah “sengaja” dipertahankan agar free riders dapat hidup secara leluasa. Terlepas dari situasi yang ada, tulisannya menarik untuk ditanggapi.

Secara keseluruhan pandangan Saudara Hariyadi cukup valid. Tetapi, ada satu pandangan (thesis) yang perlu diulas. Pandangan tersebut adalah bahwa bila kondisi tanpa kejelasan property right atas standing stock menyebabkan HPH memiliki sifat decreasing cost, maka tanpa memperbaiki kelembagaan yang ada, HPH akan selalu membentuk struktur pasar monopoli (hal. 53). Tesis ini didasarkan pada suatu pengertian bahwa perusahaan yang bersifat increasing return atau decreasing cost to scale kompatibel dengan pasar monopoli dan tidak kompatibel dengan pasar bersaing.

Tulisan ini menanggapi persoalan yang berkaitan dengan pandangannya bahwa long run average cost HPH bukan increasing cost, melainkan decreasing cost to scale. Dari penjelasan Saudara Hariyadi, saya merasakan bahwa dari sisi kerangka teorinya, tesis tersebut agak bias. Ini terutama, jika alasan saya dapat diterima, berakar dari kerancuan pengertian antara bentuk U kurva AC dalam short run dan dalam long run. Decreasing cost to scale yang dimaksud sebenarnya decreasing cost to scale yang “semu”, sebab yang terjadi sebenarnya dampak “subsidi” yang berlebihan. Karena itu dalam struktur pasar apapun, pengusahaan hutan dengan sistem HPH, pada dasarnya tidak menguntungkan kecuali “tersubsidi”.

Konsep Umum Biaya Produksi

Dalam teori ekonomi mikro, kita diperkenalkan pada konsep biaya produksi. Konsep ini memberikan alat analisis bagaimana seorang ekonom (bukan pengusaha) mencoba mengamati perilaku produsen atau pengusaha (bukan ekonom) dalam menghasilkan barang atau jasa yang dibutuhkan oleh konsumen.

Dalam analisis tersebut, kita diperkenalkan dengan konsep-konsep seperti Marginal Cost (MC), Variable Cost (VC), Fixed Cost (FC), Average (Total) Cost (ATC/AC), dan seterusnya. Menurut konsep biaya produksi, produsen akan berproduksi dengan volume (sebesar) saat kondisi maximizing profit dicapai yaitu pada saat MC = p (harga pasar barang atau jasa yang diproduksi). Dari konsep ini, kita dapat menurunkan kurva supply (penawaran) yang tidak lain adalah kurva MC itu sendiri.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan