Mahmood Mamdami, The Myth of Population Control: Family, Caste, and Class in an Indian Village. Monthly Review Press, New York & London, 1972, App. Bibl. Ind. 173 hal.
Buku ini merupakan tinjauan mendalam dan sekaligus merupakan kritik atas proyek yang dikenal dengan nama “The Khanna Study”. Suatu “program aksi” keluarga berencana yang dilaksanakan Bagian Kesehatan Masyarakat Universitas Harvard, bekerja sama dengan Pemerintah India dan Kolese Kedokteran Kristen di Ludhiana. Hasil proyek ini sendiri dapat dipelajari melalui berbagai laporan, dan karangan. Salah satu di antaranya yang terpenting adalah buku J.B. Wyon dan J.E. Gordon dalam The Khanna Study: Population Problems in the Rural Punyab, 1971.
Mamdami dengan studi yang cermat disertai bahan lapangan yang kaya, secara meyakinkan mengungkap kegalaran proyek tersebut yang telah menelan biaya sekitar US $ 1 juta dengan jangka waktu enam tahun (Juni 1954 sampai April 1960), ditambah lagi dengan studi lanjutan di tahun 1969.
Proyek Khanna merupakan program jangka panjang yang dibarengi dengan pengumpulan data yang teliti. Tujuan program ini mengembangkan pendekatan yang bermanfaat bagi pemecahan masalah kependudukan di India. Sebagai sampel dipilih masyarakat Punyab, dengan tujuh desa “test” yang memiliki penduduk 8.000 jiwa. Kemudian diambil pula desa “kontrol” di mana program keluarga berencana tidak diselenggarakan.
Ketika diadakan penelitian pada tahun 1969 untuk mengetahui hasil program, ditemukan pada desa “test” tingkat kelahiran kasar sebesar 35 per 1.000 penduduk pada tahun 1968. Sedangkan sebelumnya yakni tahun 1957, sebesar 40. Faktor utama yang mengakibatkan penurunan tingkat kelahiran tersebut, bukan karena program keluarga berencana. Tapi menurut penelitian itu, disebabkan meningkatnya usia kawin rata-rata bagi wanita dari usia 17,5 tahun menjadi 20 tahun. Karena itu pada hakekatnya program tersebut dianggap gagal.
Menurut Mamdami kegagalan tersebut bukan sebagai ketidak berhasilan program. Tapi suatu kegagalan dari para ahli untuk mengerti pokok persoalan. Sering dikemukakan sebagai alasan ketidak berhasilan suatu program, seperti rendahnya tingkat pendidikan, kurang keinsyafan, masalah sosial ekonomi dan lain-lain. Tapi masalahnya bukan itu. Masalahnya adalah pembatasan kelahiran bertentangan dengan kepentingan utama dari mayoritas penduduk desa tersebut.
Di Khanna, hirarki dan kedudukan sosial serta pembagian pekerjaan berkaitan erat dengan sistem kasta. Semua golongan masyarakat, baik yang berkedudukan sosial ekonomi rendah atau tinggi, menginginkan jumlah anak laki-laki yang banyak. Bagi mereka, menurut Mamdami, mempraktekkan keluarga berencana berarti mengurangi angkatan kerja dalam keluarga. Hal ini justru bertentangan dengan kepentingan mereka. Benar pada masa-masa tertentu terdapat kekurangan pekerjaan di Khanna. Namun sebagai jawaban terhadap situasi itu, pemuda-pemuda tersebut pergi ke tempat lain untuk mencari pekerjaan. Dari tempat tersebut mereka mengirim uang ke rumah. Dan bila di kampung halaman sudah banyak pekerjaan lagi, mereka pulang. Dari hal di atas Mamdami menyimpulkan: “Jika tingkat teknologi di dalam kehidupan ekonomi mereka belum berubah, maka sikap terhadap keluarga berencana tak jauh bedanya dengan itu.”