Prisma

Kemerdekaan: Alat atau Tujuan

Penindasan, diskriminasi dan tingkat hidup yang tertekan di bawah takaran manusiawi sebagai akibatnya, ternyata tidak cukup kuat untuk memaksa semua para pejuang nasional untuk menetapkan dan memastikan kemerdekaan sebagai tujuan. Karena itu dalam masa penjajahan Belanda tidak kurang terjadi perpecahan-perpecahan. Bagi kelompok moderat kemerdekaan bukan tujuan. Paling-paling dia menjadi alat. Karena itu co-operatie dengan para penguasa penjajah bukan mustahil tetapi sesuatu yang mungkin, malah harus dilaksanakan bilamana kita ingin berbicara tentang penghapusan penindasan, diskriminasi yang dialami bangsa secara keseluruhan. Tetapi bagi golongan keras yang berlaku sebaliknya. Kemerdekaan adalah tujuan. Semua usaha, semua gerakan dikerahkan untuk mencapai tujuan itu. Karena itu kerjasama dengan pemerintahan penjajah dalam bentuk apa pun tidak diperkenankan. Co-operatie tidak masuk ke dalam kosakata politiknya. Penjajah Belandalah yang pertama-tama harus diusir. Salah satu alat yang dipakai untuk mengejar tujuan itu adalah revolusi nasional untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan tersebut. Mereka mencanangkan gerakan non-koperasi. Lantas hidup dikotomi paling mashur dalam sejarah pergerakan antara Co dan Non-Co.

Setelah penjajahan dihapuskan perbedaan pendapat yang sama lagi-lagi muncul: Apakah kemerdekaan masih merupakan tujuan ataukah semata-mata menjadi alat, atau menjadi tujuan dan sekaligus alat. Pertikaian tentang apakah kemerdekaan adalah alat atau tujuan tidak terlalu memusingkan kalau sekiranya di dalamnya tidak tersangkut masalah revolusi. Dengan terusirnya penjajah maka kemerdekaan telah berhenti menjadi tujuan dan beralih bentuk menjadi alat dan semata-mata alat. Kesimpulan lanjutannya adalah dengan sirnanya kemerdekaan sebagai tujuan sirna pula revolusi sebagai alat.

Namun tidak kurang pula golongan yang menganggap dan malah hidup dari anggapan bahwa kemerdekaan kapan saja dan di mana saja tetap menjadi tujuan permanen. Proklamasi kemerdekaan belum menghapus kenyataan bahwa Indonesia masih menjadi bangsa setengah kolonial, setengah feodal. Ekonomi masih berada dalam tangan asing, feodalisme masih berkuasa. Karena itu belum merdeka seratus persen. Dan bilamana belum merdeka seratus persen maka tidak ada pilihan lain daripada mengejar suatu revolusi permanen. Revolusi belum selesai dan tidak akan pernah selesai. Malah Bung Karno dengan terang-terangan menghumbar kata-kata bahwa barang siapa yang tidak mengakui kebenaran ini akan digilas oleh roda revolusi itu sendiri. Dengan kata lain kemerdekaan bukan hasil, tetapi proses. Kemerdekaan bukan momen historis semata-mata tetapi proses yang tak henti-hentinya menyejarah.

Dalam menengok kebelakang, pertikaian tentang apakah kemerdekaan adalah alat atau tujuan berarti pula mempertanyakan suatu kurun waktu dalam proses sejarah nasional. Secara historis dia menyangkut pula pertanyaan apakah yang terjadi di tahun 1945 sampai tahun 1950 suatu revolusi atau bukan. Banyak yang tidak mengakuinya sebagai revolusi. Alasannya: bila yang terjadi adalah revolusi, maka yang disebut keberhasilan yang dicapai suatu revolusi adalah pembaharuan sepenuhnya dan seluruhnya, atau perubahan struktur masyarakat tanpa meninggalkan bekas-bekasnya dalam bentuk masyarakat setengah kolonial, setengah feodal. Bilamana bukan revolusi maka yang terjadi adalah suatu gerakan, paling jauh suatu gerakan bersenjata untuk mengusir penjajah.

Pertikaian pendapat ini mungkin tidak penting di dalam dirinya sendiri. Revolusi atau bukan revolusi, kemerdekaan sebagai alat atau tujuan, tidak mengingkari kenyataan telah dicapai suatu hasil terpenting bahwa penjajah telah digusur ke luar tanah air. Dan ini menjadi langkah pertama buat membangun suatu hidup baru. Lantas di mana makna mempersoalkan pertikaian pendapat ini? Pertikaian ini tak dapat dihentikan karena dalam dirinya, ia adalah justru suatu proses mencari arti yang pada gilirannya menuntut terjemahan dalam kehidupan. Pada saatnya dia menjadi menentukan ketika kebutuhan dan kepentingan politik dan ekonomi memaksa kita untuk mengolah konsekuensi dari kemerdekaan sebagai alat dan kemerdekaaan sebagai tujuan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan