Prisma

Kemiskinan dan Kemungkinannya

Sang dokter muda berwajah manusia dari kota. Di depan matanya berbaring seorang anak yang telah hilang gerak, dikelilingi kedua orang tuanya. Kuman-kuman yang mengikis habis paru-paru si anak membawa ajalnya semakin dekat. Sang dokter berkotbah tentang kesehatan. Sang dokter berkotbah tentang kesadaran kesehatan dan kesehatan lingkungan, dan berkata lagi: Anakmu harus dibawa ke rumah sakit. Kalian kejam dan tidak berperikemanusiaan bila membiarkan anakmu mati tanpa mencari pertolongan dokter. Dari wajah-wajah pucat mengalir kata-kata: Kemiskinan telah menyebabkan kami tidak berperikemanusiaan!

Manusia hidup dan dari saat ke saat dia harus menyambung hidupnya. Untuk menyambung hidup sama artinya dengan bekerja, berusaha, mencari makan. Namun dia terlalu benar untuk selalu disadari setiap saat. Tetapi ketika hidup tidak bersambung di sana kegiatan ekonomi tidak lain daripada usaha untuk memperoleh sesuap nasi penyambung hidup. Banyak yang tersinggung oleh ungkapan ini.

Tetapi argumen hampir tidak dapat berdebat melawan kenyataan. 1,1 juta bayi meninggal setiap tahun di Jawa. Angka kematian bayi 30 sampai 40 kali kematian orang dewasa. 60 persen kematian disebabkan penyakit-penyakit menular dan semuanya pada akhirnya bersumber pada kekurangan gizi. Kematian senantiasa menjadi kesimpulan dari pertarungan argumen-argumen seperti: yang ada hanyalah “gejala kurang makan”, “tanda-tanda kurang gizi”, dan bukan kelaparan. Namun dengan tingkat kematian anak setinggi itu tidaklah sulit untuk memperkirakan bahwa akan sering datang saat di mana pilihannya bukan lagi menghindari kematian, akan tetapi mereka terpaksa memilih siapa di antara anak-anaknya harus mati untuk memberikan kesempatan hidup kepada anak-anaknya yang lain! Dan bagi semua orang pilihan itu tidak berperikemanusiaan. Namun tuduhan keras tersebut hanyalah dijawab dengan sebuah suara yang lemah: Kemiskinan telah menyebabkan kami tidak berperikemanusiaan.

Apakah kemiskinan? Rupa-rupa jawaban diberikan kepada gejala yang berdiri telanjang di depan mata. Kemiskinan dipilah dan diklasifikasikan. Yang miskin adalah mereka yang pengeluarannya 320 kg nilai tukar beras/orang-tahun. Miskin sekali adalah yang pengeluarannya dibawah 240 kg nilai tukar beras/orang-tahun. Paling miskin: di bawah 180 kg nilai tukar beras/orang-tahun. Karena kriterianya berbeda-beda maka para cerdik cendekia berlomba-lomba menghabiskan biaya puluhan juta rupiah untuk menghitung dan menentukan di garis mana orang-orang miskin berada. Setelah selesai suatu penelitian yang sangat rumit, barulah bisa ditentukan apa yang disebut poverty line. Yang berada di bawahnya adalah mereka yang disebut miskin mutlak. Ironis! Betapa mahal biaya meneliti dan menghitung-hitung kemiskinan! Tetapi, hanya manusialah yang miskin dan hewan tidak pernah miskin. Dan justru karena itu pula, di balik kegelapan masih terpantul secuil harapan. Kemiskinan bukan saja fakta, tetapi dalam kemiskinan ada kemungkinan. Artinya dia membuka kemungkinan untuk diketahui akar-akarnya, lantas dibantu.

Tetapi sialnya, dalih kadang-kadang lebih berkuasa dari kenyataan. Fakta kalah terhadap argumen. Tidak jarang terdengar seruan: Salahmu sendiri, mengapa miskin? Menjadi miskin adalah sebuah kesalahan! Mereka malas karena itu mereka miskin, sedangkan sebenarnya mereka tidak berdaya. Cukup tersedia fakta yang membuktikan bahwa kemiskinan bukan karena kemalasan akan tetapi karena kesempatan tidak terbagi rata, sumber-sumber tidak terbagi rata. Namun kemiskinan masih tetap mengandung kemungkinan dan karena itu penanganan kemiskinan seharusnya mendapat alat yang tepat pula. Tidaklah mungkin mengambil alu buat mencukil duri. Sebaliknya tidaklah mungkin mencari jarum buat membelah batu. Dan politik ekonomi yang tepat senantiasa mencari dan memperbaiki alat-alat yang dipakai untuk memerangi kemiskinan. Bila politik ekonomi tidak tepat, bila alat yang dipergunakan tidak sesuai maka kita akan membuka peluang untuk orang berkata terus: Kemiskinan telah menyebabkan kami tidak berperikemanusiaan!

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan