Sering kita baca tentang keadaan Pulau Jawa yang penduduknya begitu padat. Sebagian besar tinggal di pedesaan dan menggantungkan hidupnya di sektor pertanian. Di antara mereka banyak petani sempit dan buruhtani. Akan tetapi kalau kita melihat lebih jauh, di samping bekerja di sektor pertanian kebanyakan masyarakat di pedesaan Jawa juga terlibat di pekerjaan di luar pertanian sebagai kegiatan sambilan atau sekunder untuk menambah penghasilan. Di antara kegiatan sambilan tersebut, usaha kerajinan rakyat/industri rumahtangga memiliki peran penting. Usaha kerajinan rakyat tersebut biasanya mempunyai pola penyebaran geografis tersendiri dengan banyak spesialisasi lokal, desa atau kampung.
Kombinasi usaha mencari nafkah di bidang pertanian dan non-pertanian oleh orang-orang desa, tidaklah sulit ditemukan, bila kita lihat berbagai faktor pendukungnya, antara lain: luas usahatani yang sempit, rata-rata kurang dari 0,5 hektar, di Jawa. Akibatnya hasil usahatani tersebut tidak mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan tidak mampu menyerap kelebihan tenaga keluarga sehingga ga keluarga perlu mencurahkan sebagian tenaga ke usaha di luar pertanian.
Sifat pendapatan usahatani sangat musim-an; mereka memerlukan waktu menunggu yang cukup lama sebelum hasilnya bisa dipetik, sedangkan kebutuhan dan pengeluaran keluarga berlangsung terus, sehingga diperlukan usaha sambilan yang dapat memberikan penghasilan kontinu kepada mereka.
Pendapatan usahatani banyak mengandung risiko dan ketidakpastian karena selalu terancam kegagalan panen karena hama, penyakit, kekeringan dan kebanjiran, sehingga diperlukan suatu sumber penghasilan cadangan, walaupun kecil, yang lebih terjamin.
Dalam hal ini ternyata usaha kerajinan rakyat/industri rumahtangga sangat cocok untuk dikombinasikan dengan usaha pertanian, karena usaha kerajinan rakyat memiliki beberapa sifat antara lain: kegiatan tersebut bisa dimulai atau dihentikan sesuai dengan kesibukan tanpa mengancam produksinya. Kegiatan tersebut dapat dikerjakan pagi, siang dan malam hari tergantung pada waktu lowong.
Usaha kerajinan umumnya tidak memerlukan modal besar dan umumnya penghasilan usaha tersebut agak lebih cepat diterima, sehingga penghasilannya agak terjamin.
Kegiatan tersebut sebagian besar dapat memanfaatkan tenagakerja wanita dan anak karena kegiatannya bisa dikerjakan di rumah, sehingga tugas mereka mengurus rumahtangga seperti misalnya memasak, menjemur padi menjaga bayi dan sebagainya tidak terganggu.
Melihat pertambahan penduduk dan angkatan kerja di pedesaan Jawa tidak akan berhenti, agaknya sektor pertanian atau industri besar-besaran tidak mampu menyerap mereka. Oleh karena itu peranan usaha kerajinan rakyat/industri rumahtangga cukup penting untuk diketahui terutama yang menyangkut kesulitan-kesulitan yang dihadapi produsen, kemungkinan pengembangannya sehingga dapat menyumbangkan pendapatan yang lebih besar dengan lebih banyak menyerap tenaga manusia. Tulisan ini bertujuan mengungkapkan beberapa persoalan seperti telah disebut di atas dengan mengambil kasus DAS Cimanuk, Jawa Barat, di mana penulis serta rekan lainnya dari Survey Agro Ekonomi (SAE) telah mengadakan penelitian selama beberapa tahun terakhir dalam rangka proyek Studi Dinamika Pedesaan.1 Kasus-kasus kerajinan yang dilihat adalah kerajinan batu bata di desa I. (Indramayu), kerajinan tali tambang (dari bambu), topi pandan dan dan salang lulup di desa M (Majalengka), kerajinan tolombong (sejenis keranjang yang terbuat dari bambu) di desa C (Garut).
* Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Benyamin White atas komentar dan saran yang telah diberikan sewaktu penulis menyusun naskah karangan ini.
1 Di dalam tulisan ini, proyek penelitian tersebut disingkat SDP.