Prisma

Kerja Seksual Dalam Industri Wisata

Thanh-Dam Truong, Seks, Uang, dan Moralitas: Prostitusi dan Pariwisata di Asia Tenggara, London dan New Jersey, Zed Books, 1990, 227 hal. (bibliografi dan indeks).

TRUONG adalah representasi generasi mahasiswa dan mahasiswi antara akhir 1960-an dan awal 1970-an di Amerika Serikat, yang mengalami kecenderungan radikalisasi pemikiran yang ketika itu lazim disebut “Kiri Baru.” Di samping masalah-masalah seperti imperialisme, alineasi masyarakat, revolusi kebudayaan, feminisme, lingkungan hidup, serta gerakan anti-perang Vietnam dan anti-rasialisme, salah satu debat penting dalam arus gerakan tersebut berkisar pada soal pelacuran (wanita dan juga anak-anak). Di awal 1980-an, sebagai sukarelawan PBB untuk urusan Wisata dan Lingkungan di Muangthai dan Filipina, ia berkesempatan menjalin pengamatan terlibat, sehingga membangkitkan pertanyaan yang lebih mengakar (radikal) mengenai hubungan antara pelacuran dan industri wisata.

Pengalamannya yang luas sebagai aktivis dan peneliti serta keterlibatannya dalam organisasi yang mengurus masalah pelacuran di Eropa Barat, AS dan Canada, membawa Truong pada pergulatan yang semakin mendalam sekaligus menggugat kepercayaan usang tentang moralitas pelacuran, sebab-musababnya, dan dilema-dilema praktis yang dihadapi oleh berbagai lembaga, pemerintahan, dan badan-badan internasional untuk “menghapuskan” pelacuran. Jadinya, menurut saya, buku ini bukan sekedar sebuah proyek disertasi yang memang telah diuji dan dipujikan secara akademis di Universitas Amsterdam (1988), melainkan suatu karya seminar yang lahir dari pendirian politik yang matang, nuansa pengalaman praktis dengan intra dan inter-subyektivitas yang mendalam, kritisisme teoritis, serta penyadaran dan perjuangan emansipatoris. Tetapi dengan nada merendah, Truong — kelahiran Vietnam yang menjadi warganegara Belanda — menyatakan bahwa studinya ini hanyalah sumbangan bagi discourse pelacuran.

Buku ini dipilah dalam dua bagian. Bagian pertama (bab 1 dan 2) merupakan uraian konseptual dan kritisisme Truong terhadap pendekatan konvensional mengenai seksualitas. Tujuannya: (i) menunjukkan berbagai kekurangan teoritis dalam kepustakaan yang berbicara tentang seksualitas umumnya dan pelacuran khususnya; (ii) menggambarkan berbagai kekurangan tersebut dalam strategi dan kebijakan yang menangani masalah pelacuran; dan (iii) mengajukan suatu pendekatan alternatif yang melihat pelacuran sebagai suatu hubungan sosial produksi. Diharapkan, pendekatan ekonomi politik terhadap pelacuran ini dapat menyumbang suatu teori feminis tentang proses reproduksi sosial. Sementara itu bagian kedua (bab 3, 4, dan 5) diarahkan untuk menggarap dan menguji lebih rinci ekonomi politik pelacuran dan pariwisata (turisme) pada tingkat internasional yang terwujud di Asia Tenggara, terutama studi kasus Muangthai, sebagai bagian dari perluasan industri di sektor jasa.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan