Pendahuluan
Sudah semenjak beberapa waktu lamanya kerjasama internasional1 merupakan suatu kenyataan, baik kerjasama bilateral maupun multilateral. Membandingkan kerjasama bilateral dengan multilateral, Komisi Pembangunan Internasional yang dipimpin L.B. Pearson menyatakan bahwa arus kerjasama bilateral yang mengalir ke negara-negara berkembang tetap dominan. Pada tahun 1967 kerjasama bilateral merupakan 90 persen dari seluruh kerjasama internasional untuk pembangunan, meskipun ada kecenderungan bahwa preferensi terhadap kerjasama multilateral bertambah.2 Sementara itu Komisi Internasional tentang Pembangunan Pendidikan yang dipimpin Edgar Faure menyatakan bahwa bantuan yang diterima negara-negara berkembang pada tahun 1969 berjumlah US$ 8.800 juta, US$ 5.700 juta berasal dari negara-negara kapitalis, US$ 1.900 juta dari negara-negara sosialis, dan US$ 1.200 juta dari organisasi-organisasi internasional.3
Komisi ini juga menyatakan bahwa setahun sebelumnya (1968), kerjasama internasional di bidang pendidikan dan latihan profesionil merupakan elemen tunggal terbesar dalam rangka kerjasama teknis internasional, dan merupakan 40 persen dari seluruh kerjasama bilateral.4 Sebuah sumber lagi memberikan informasi bahwa tahun 1971 volume kerjasama internasional di bidang pendidikan yang berasal dari semua sumber ditaksir sebesar US$ 1.500 juta sampai US$ 1.600 juta.5 Perancis, Amerika Serikat dan Inggeris termasuk negara-negara yang jumlah bantuannya paling besar. Sedangkan di antara organisasi-organisasi internasional, kelompok Bank Dunia merupakan badan yang paling banyak memberikan bantuan di bidang pendidikan. Untuk tahun anggaran 1972-1974 misalnya, jumlah pinjaman yang diberikan Bank Dunia/IDA untuk pendidikan meliputi US$ 627,25 juta, terdiri dari US$ 69 juta (11 persen) untuk pendidikan dasar, US$ 301,08 juta (48 persen) buat pendidikan menengah, dan US$ 257,17 juta (41 persen) untuk pendidikan tinggi.6
1 Istilah “kerjasama internasional” di sini mengandung pengertian yang cukup luas. Pengertian utamanya adalah “bantuan kepada negara-negara berkembang oleh negara-negara yang lebih maju, baik secara bilateral maupun multilateral, dan juga oleh organisasi-organisasi internasional, baik pemerintah maupun swasta.” Istilah “kerjasama” maupun “bantuan” kadang-kadang dipertukarkan dan kadang-kadang keduanya dipakai dalam karangan ini.
2 Lihat L.B. Pearson (Ketua), Partners in Development, (New York: Praeger Publishers, 1969), hal. 209.
3 Lihat Edgar Faure (Ketua), Learning to be, Unesco, Paris, 1972, hal. 250.
4 Ibid.
5 Lihat H.M. Phillips, “The redeployment of Educational Aid” dalam Education and Development Reconsidered, (New York: Praeger Publishers, 1974), hal. 258.
6 Lihat, Kertas Kerja Sektor Pendidikan, Bank Dunia, 1974 hal. 64.