Reformator Budaya dan Perintis Orde Baru
Sri Sultan Hamengku Buwono IX tidak saja dikagumi masyarakat Jawa, melainkan juga seluruh rakyat Indonesia. Sebagai raja Jawa, dia punya andil dalam perjuangan nasional. Birokrasi pemerintahan daerah Yogyakarta dibenahi. Pengalaman ini dimanfaatkan untuk memperbaiki birokrasi di instansi pemerintahan yang dipimpinnya. Peranan Sri Sultan HB IX amat menonjol dalam tahap perintisan Orde Baru terutama dalam penataan ekonomi dan keuangan.
“Dengan timbulnya Orde Baru membuat kami lebih akrab lagi saling berhubungan, bahkan juga dengan Jendral Suharto. Trio yang terkenal pada waktu itu, yaitu Suharto, Hamengku Bowono IX dan saya sendiri, yang memikul bagian terberat pada awal Orde Baru, telah mendapat kekuatan baru dalam perjuangan membela dan mempertahankan kedudukan Indonesia di dalam maupun ke luar negeri…” (Adam Malik, dalam buku Tahta untuk Rakyat, Gramedia, Jakarta, 1982, hal. 10).
PERNYATAAN yang berbobot sejarah itu ditulis oleh Adam Malik ketika dia menjabat wakil presiden RI dalam kata sambutan buku Tahta Untuk Rakyat, menyambut hari ulang tahun ke-70 Sri Sultan HB IX. Adam Malik mengenang kembali satu masa pertengahan dekade 60-an yang sarat dengan fakta dan makna sejarah kontemporer Indonesia. Satu babak baru dari transformasi kebudayaan Indonesia diwarnai oleh proses reorganisasi dan restrukturisasi sistem kekuasaan yang memberi dampak mengesankan pada kehidupan politik dan ekonomi nasional saat ini. Tentu dengan segala pertimbangan di balik pernyataan itu, dia secara eksplisit menyebut tiga tokoh yang menjadi pelaku utama dari panggung kehidupan politik Orde Baru: Suharto, Hamengku Buwono dan Adam Malik sendiri.
Salah satu pertanyaan yang mengusik rasa ingin tahu pengamat sejarah kontemporer Indonesia adalah sejak kapan Orde Baru dimulai? Dari perspektif sejarah, pertanyaan berikut adalah bila Orde Baru itu mengandung konsep perubahan kehidupan kemasyarakatan, maka manakah nilai-nilai kehidupan kemasyarakatan yang merupakan pewarisan (continuitas) dari Orde Lama? Manakah nilai-nilai baru (aspek inovatif dan proses discontinuitas) ciptaan sistem masyarakat baru? Ini merupakan tantangan yang menarik bagi pengamat gejala transformasi sosial dekade 60-an untuk merekonstruksi kembali bangunan realitas sosial yang terbentuk pada waktu itu. Evaluasi menyeluruh belum dilakukan, karena pelbagai kontribusi dari para arsiteknya belum dirumuskan secara final.





