Prisma

Kiri Eropa dan Muslim Progresif

Narasi tentang Islam di Barat terlalu suntuk dijejali narasi pertarungan antara “negara liberal” dan “radikalisme agama”, yang identik dengan pertarungan antara liberalisme dan fundamentalisme. “Islam” masuk dalam pusaran itu sebagai kambing hitam, pihak tertuduh, atau ancaman laten bagi kebebasan, demokrasi, dan cita-cita liberal tatanan demokrasi negara-negara Barat; sebuah narasi yang melegitimasi sentimen auto-immunity masyarakat Barat terhadap umat Muslim sebagai the other, yang asing, yang dicurigai. Subjek utama narasi itu adalah negara—dengan perangkat ideologis dan politisnya— dan umat Muslim sebagai “minoritas” dengan segala ambiguitas implikasi politis dari status ini: untuk dilindungi, tetapi sekaligus diawasi; diidentifikasi, tetapi sekaligus dikontrol; dijaga “perbedaannya”, tetapi sekaligus diasimilasikan ke dalam “identitas nasional.”

Buku karya Timothy Peace ini mengisi hal yang luput ditangkap narasi dominan tersebut dengan mengajak pembacanya mengenali dinamika lain yang berlangsung dalam batasbatas State-centrist “demokrasi liberal” itu: dinamika gerakan sosial di Eropa dan keterlibatan umat Muslim di dalamnya. Menggeser perhatian dari aktor-aktor hegemonik yang mengisi narasi dominan (negara, aparatus ideologis- represif negara, kaum “fundamentalis radikalis- teroris”, warga negara sebagai objek proteksi negara), buku ini menempatkan what is simply beyond State sebagai socius utama: “gerakan sosial” dalam arti luas, khususnya dalam gerakan alter globalisasi (mouvement altermondialiste), dan aktor-aktor sosial baru yang mendefinisikan diri secara kolektif, terkadang melampaui batas-batas negara: umat Muslim generasi baru yang mengidentifikasi diri sebagai “Muslim progresif” dan turut memekikkan suara: another world is possible!

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan