CERITA keberhasilan mereka telah memenuhi sebagian besar agenda persoalan-persoalan internasional. Mulai dari pertumbuhan ekonomi mereka yang mengagumkan, orientasi ekspornya yang terus meningkat, kemudian disusul dengan kemajuan teknologi, industri, skill, penguasaan pasar dan yang lebih penting lagi kesejahteraan masyarakatnya. Tetapi siapa sebenarnya mereka itu? Itu pertanyaan yang akan muncul disaat kita bicara tentang “4 naga kecil”. Mereka adalah Korea Selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapura.
Jelas, kehadiran mereka pada tahun 1970an dan 1980an ini, telah memberi dampak yang besar dalam dinamika internasional. Negara-negara yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya, sekonyong-konyong muncul ke permukaan dengan segala atribut prestasinya. Secara langsung mereka telah mencairkan pembagian dunia antara negara-negara industri maju dengan negara-negara berkembang. Ini juga sekaligus, turut melemahkan asumsi-asumsi teori pembangunan yang ada. Pertanyaan yang menggoda, bagaimana meletakkan keberhasilan mereka di antara dua teori pembangunan yang ada, yakni antara teori modernisasi dengan teori ketergantungan?
Teori Modernisasi, yang muncul pada akhir 1960an, memberi label negara maju sebagai masyarakat modern, sedangkan negara berkembang dengan istilah masyarakat tradisional. Ada satu keyakinan dari perspektif teori ini, yakni negara-negara berkembang akan melalui garis linier untuk sampai menjadi negara-negara maju. Garis ini dulu juga dilalui negara maju ketika masih menjadi negara berkembang. Mengingat keterbelakangan yang dialami negara-negara berkembang, maka untuk itu bantuan teknologi, skill, modal dan nilai-nilai modern (misalnya rasional, sekuler, prestasi dan demokratis) menjadi hal yang niscaya dibutuhkan negara-negara berkembang jika ingin maju. Dengan demikian, hubungan antara keduanya menjadi hal yang seharusnya dijalankan. Pembangunan ekonomi yang maju dan sistem politik yang demokratis liberal merupakan tipe ideal bagi negara-negara berkembang.
Berjalannya waktu seiring dengan bukti-bukti yang muncul, memperlihatkan bahwa hubungan antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang tidak menghasilkan seperti apa yang diharapkan. Cerita gemilangnya Eropa Barat dengan AS tidak lahir kembali di negara-negara berkembang. Sebaliknya, posisi “zero-sum” lah yang tampil ke permukaan, yakni kemajuan yang terus berjalan di negara-negara maju adalah sisi lain dari keterbelakangan yang akrab menimpa negara-negara berkembang. Dari kacamata teori ketergantungan, yang lahir akhir dekade 1970an, hubungan itu divisualisasikan sebagai hubungan antara center (pusat) dengan periphery (pinggiran). Keyakinan yang ada di balik itu, selama negara-negara berkembang tetap berinteraksi dengan negara-negara maju dalam struktur ekonomi-politik internasional yang kapitalistik, maka selama itu juga negara-negara berkembang akan tetap terkebelakang. Ini disebabkan surplus keuntungan yang ada di negara-negara berkembang terus-menerus tersedot ke negara-negara maju.
Sebagaimana teori modernisasi, keyakinan teoritisi ketergantungan lambat laun berhadapan secara kontradiksi dengan realitas empiris yang hadir. Muncul Jepang, yang telah hancur dalam PD II, sebagai negara industri dengan pembangunan ekonomi yang menakjubkan. Kemudian disusul “4 naga kecil” (the four little dragons) dari Asia sebagai negara-negara industri baru (NIB) yang belakangan ini sering juga dilabel sebagai “the gang of four”, walaupun seringkali rancu dengan kelompok empat dari Cina yang justru sangat konservatif dan tenggelam dalam arus modernisasi. Pembangunan ekonomi mereka berjalan baik walaupun berhubungan dengan negara-negara maju dan terintegrasi dalam struktur ekonomi-politik internasional yang kapitalistik.
Keberhasilan NIB ini bisa jadi merupakan ‘kekalahan’ bagi teori ketergantungan, tetapi tidak serta merta ‘kemenangan’ bagi teori modernisasi. Suksesnya pembangunan ekonomi NIB ternyata tidak (belum?) diikuti kehadiran sistem politik yang liberal-demokratis seperti di AS dan Eropa Barat. Sistem politik yang otoriter ternyata lebih berdampingan erat dengan pembangunan ekonomi yang ada. Sementara itu, para teoritisi ketergantungan sendiri cukup responsif atas perkembangan-perkembangan empiris yang terjadi di lapangan. Konsep ‘semi-periphery’ (setengah pinggiran) dari Immanuel Wallerstein, atau ‘sub-imperialism’ (sub-imperialisme) dari Ruy Mauro, merupakan penganalogian dengan negara-negara industri baru. Di satu sisi, mereka sudah berhasil lepas dari posisi pinggiran, dan di sisi lain, mereka sedang bergerak ke pusat.
Tetapi memang ada persoalan dengan kedua teori besar itu dalam menanggapi kemunculan NIB. Pertama, mereka kurang bisa menjawab pertanyaan, mengapa hanya negara-negara tertentu saja yang mampu melakukan pembangunan ekonomi secara berhasil? Dan mengapa negara-negara berkembang yang lainnya tidak mampu melakukannya? Kedua, persoalan mereka berkaitan dengan keinginannya untuk selalu bergerak dalam lingkup global. Kecenderungannya yang lahir, mereka selalu menggeneralisir persoalan-persoalan yang tampak dan mengabaikan hal-hal yang spesifik dalam melihat kasus per kasus (negara per negara). Godaan untuk menjadi teori yang universal pada gilirannya hanya akan melemahkan teori itu sendiri.
Mengingat kehadiran NIB telah menjadi obsesi bagi negara-negara berkembang lainnya untuk coba mengadopsinya, maka pemahaman yang lebih utuh atas masing-masing negara menjadi soal yang mendesak. Derap-langkah NIB bisa diusik dari jalannya sendiri-sendiri, walaupun harus juga ditangkap dalam bingkai integrasi Asia. Secara internal, ini bisa dilacak melalui perbedaan latar belakang sejarah, luas wilayah, jumlah penduduk dan sumber alam yang terbatas, kemudian pola pembangunan dan strategi industrialisasi yang dipilih, kaitan antara sektor industri dengan sektor agraris, pemanfaatan modal asing yang terarah dan juga peranan pemerintah dan negara. Sementara itu secara eksternal, ini bisa ditelusuri dalam sistem perdagangan dan moneter internasional yang relatif stabil, arus penanaman modal dan bantuan luar negeri yang meningkat serta kepentingan geopolitik dan geostrategis negara-negara adidaya. Dinamika dan interaksi di antara faktor-faktor itu, yang bisa mengiringi kita pada pemahaman yang lebih utuh dari kehadiran dan berkembangnya “4 naga kecil”. Dengan demikian, jika ada godaan untuk meniru jalan yang ditempuh mereka atau bahkan melupakannya, ditopang oleh catatan-catatan yang relatif tepat dan tentu saja bijak.