Redaksi yang terhormat,
Terima kasih atas dimuatnya tulisan saya yang berjudul “Garis Kemiskinan dan Pengentasan Kemiskinan: Kerangka Teori Foster-Greer-Thorbecke” di Majalah Prisma Nomor 1 tahun 1997.
Sehubungan dengan pemuatan tulisan tersebut, ada dua hal yang ingin saya sampaikan, terutama berkaitan dengan diubahnya tulisan saya tersebut oleh Redaksi Prisma tanpa sepengetahuan saya.
Pertama, judul tulisan saya ternyata telah diganti oleh redaksi tanpa sepengetahuan saya. Judul awal yang saya berikan adalah “Ukuran Kemiskinan Foster-Greer-Thorbecke.” Judul yang baru yang diberikan oleh Redaksi Prisma, “Garis Kemiskinan dan Pengentasan Kemiskinan: Kerangka Teori Foster-Greer-Thorbecke” menurut saya sama sekali tidak mencerminkan isi tulisan saya tersebut. Tulisan saya tidak menguraikan sama sekali tentang garis kemiskinan. Tulisan saya adalah tentang bagaimana mengukur kemiskinan tersebut. Ukuran yang saya usulkan adalah apa yang disebut Ukuran Kemiskinan Foster-Greer-Thorbecke. Di bagian akhir tulisan tersebut, saya coba uraikan kegunaan Ukuran Kemiskinan tersebut untuk program pengentasan kemiskinan.
Kedua, kalimat terakhir dari alinea kedua juga telah diganti oleh redaksi, tanpa sepengetahuan saya, sehingga menimbulkan arti berbeda dari apa yang saya maksudkan. Kalimat yang direvisi oleh redaksi berbunyi sebagai berikut:
Artikel ini tidak akan masuk ke dalam perdebatan tersebut, melainkan ingin memperlihatkan apakah garis kemiskinan tersebut telah dapat mencerminkan nilai-nilai hidup yang layak, bukan banya sekadar kebutuhan fisik minimum.
Kalimat aslinya, yang saya tuliskan, berbunyi sebagai berikut,
Tulisan ini tidak akan masuk ke dalam perdebatan tersebut. Untuk tulisan ini, anggaplah bahwa garis kemiskinan tersebut telah dapat mencerminkan nilai-nilai hidup yang layak, bukan banya sekadar kebutuhan fisik yang minimum.
Revisi yang dilakukan oleh redaksi menyatakan bahwa saya akan “melihat” garis kemiskinan tersebut secara detil, apakah telah memenuhi nilai-nilai hidup yang layak atau tidak. Padahal, saya tidak pernah punya rencana untuk melakukan hal tersebut dan memang bukan itu yang saya lakukan di artikel tersebut. Yang ingin saya lakukan adalah “mengukur” kemiskinan tersebut. Untuk dapat mengukur kemiskinan tersebut, saya harus mengidentifikasi dulu siapa saja yang miskin, siapa yang tidak miskin. Untuk mengidentifikasi siapa saja yang miskin, dibutuhkan garis kemiskinan. Untuk tulisan saya tersebut, saya minta pembaca mengasumsikan bahwa garis kemiskinan tersebut sudah ada dan sudah mencerminkan nilai-nilai hidup yang layak, bukan hanya sekadar kebutuhan fisik minimum.
Kedua hal di atas, menurut pendapat saya, sangat mengganggu di dalam tulisan saya, dan berimplikasi kepada persepsi pembaca baik terhadap tulisan saya maupun terhadap saya sendiri, sebagai pengarang artikel tersebut. Karena itu, saya mohon kiranya Redaksi dapat mempublikasikan kedua kesalahan revisi tersebut secara terbuka.
Saya yakin bahwa revisi yang dilakukan oleh Redaksi bertujuan untuk memperjelas dan menajamkan hal-hal yang ingin disampaikan oleh sebuah artikel. Meskipun demikian, akan sangat baik bila revisi tersebut dikonsultasikan kembali dengan si pengarang artikel dimaksud. Hal ini semata-mata untuk menghindari kesalahan atau perubahan arti dan karena tanggung jawab sebuah artikel adalah pada diri pengarangnya. Atas perhatian dan kerjasamanya yang baik, saya ucapkan terima kasih.