Prisma

Konflik Status dan Kekuasaan Orang Batak Toba

Konflik antara etnis di tengah pluralitas masyarakat Indonesia masih seringkali terjadi dan faktor-faktor penyebabnya pun sangat bervariasi. Di tengah orang-orang Batak Toba konflik interen mereka dapat dipicu oleh penyebab baik yang sepele maupun yang serius. Dalam kasus konflik orang Batak Toba ternyata status, pendidikan, mobilitas, ideologi, harta kekayaan dan persaingan ikut berperan. Studi Bungaran A. Simandjuntak ini mengungkapkan konflik status dan kekuasaan orang Batak Toba berdasarkan hasil penelitian di Tapanuli Utara, Asahan dan Deli Serdang. Kasus perpecahan Gereja HKBP sejak dulu sampai tahun 1994 termasuk dalam kajian ini.

Pada suatu pesta Natal di perkebunan asing HAPM Bunut, di Kabupaten Asahan tahun 1947, seusai upacara gerejani para penetua gereja membagikan roti dan minuman kepada anak-anak. Pada saat pembagian itu berlangsung terjadilah keributan, tarik menarik bahkan umpatan kotor keluar dari pihak orangtua. Penyebabnya ialah karena ada seorang pembagi roti memberi lebih banyak kepada kenalan atau teman semarganya, sehingga mengundang protes orang dan marga lain.

Di dalam deskripsi penulis Barat sejak abad XIX hingga pertengahan abad XX, dikisahkan bahwa di kalangan orang-orang Batak pada umumnya sering terjadi perang antardesa, antar marga yang sangat keras, sengit dan lama.1 Warneck secara kontroversial

mengatakan,2^2n^ bahwa selain ciri-ciri khas orang Batak yaitu pengasih, tulus, murah hati, setia dan jujur ternyata di dalamnya juga ada ciri-ciri sombong, pongah, pencuriga dan pencemburu, malas, acuh tak acuh, kikir, bersemangat pejuang dan suka perang.

Memperhatikan karakter tersebut, memang konflik individu dan sosial dapat terjadi karena sakit hati, perbedaan pandangan dalam adat, rebutan harta warisan dan kedudukan menurut tatanan genealogik, utang piutang, penghinaan dan masalah tapal batas tanah.3^3n^ Di samping itu, sejak tahun 1917 hingga kini secara periodik terjadi konflik internal di dalam organisasi agama Kristen bernama Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).4^4n^

Dalam kaitan dengan persoalan tersebut, studi ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab (termasuk yang fundamental) mengapa konflik sosial selalu terjadi di kalangan orang Batak Toba sejak zaman sebelum kekuasaan Belanda hingga kini. Apakah konflik terjadi karena perubahan struktur, sistem sosial atau pun pandangan ideologi? Sejauh mana peranan faktor harta kekayaan, pendidikan, mobilitas, status sosial, ideologi dan persaingan terhadap timbulnya konflik pada orang Batak Toba moderen? Bagaimana pengaruhnya terhadap sikap dan pola kehidupan mereka pada masa yang akan datang?

Dari hasil studi ini kiranya diperoleh solusi praktis untuk menyelesaikan konflik orang Batak Toba yang sedang terjadi dan mencari cara untuk memanfaatkan situasi persaingan dan konflik tersebut bagi dinamika dan kemajuan masyarakat. Melalui studi perbandingan konflik yang terjadi pada berbagai sukubangsa para pengambil keputusan dapat memperoleh pola terapi penanggulangan yang akurat, baik secara lokal, regional maupun nasional.


1 Lihat, T. Raffles, “Report of a Journey into Batak Country in the Interior of Sumatra in the Year 1824 by Burton and Ward Babtist Missionaries,” dalam Transaction of the Royal Asiatic Society of The Great Britain and Ireland, Vol.1 (London: J.L.Cox, Great Queen Street, 1827); M. Joustra, Batakspiegel, Uitgaven van het Bataksch Instituut, No.3 (Leiden: SC van Doesburgh, 1910); D.W.N. Boër, De Volks “Haradjaons”, Tijds.B.B.XLIII, 1915; C.W. Janssen, De Batak als exploitanten van hun eigengebied, KT.13 Jrg, 1924; J.C. Vergouwen, Nota omtrent de inlandsche rechts- gemeenschappen in het gewest Tapanoeli (Weltevreden: Landsdrukkerij, 1929); F.M. Schniter, Forgotten Kingdoms in Sumatra (Leiden: E.J.Brill, 1939).

2 G. Warneck, Nacht en morgen op Sumatra schetsen en verbalen (Amsterdam: Hoveker & Zoon, 1873).

3 Lihat, J.C. Vergouwen, op.cit.

4 HKBP, Majalah Immanuel, 1918-1924; P.B. Pedersen, “Klipping Dr. P.B. Pedersen,” tidak diterbitkan (Petaling Jaya, 1962-1965); B.A. Simandjuntak, “Kumpulan Dokumen,” tidak diterbitkan (Medan, 1993).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan